Kawans, tulisan ini buat penggemar serial ini yang ga sempat nonton yaa 🙂

Sinopsis Mohabbatein episode sebelumnya Ishita merasa sangat kesal terhadap pelecehan yang dilakukan iparnya Parmeet. Apesnya dia tidak bisa berbagi pada siapapun karena Simmi membela suaminya itu dan ibu mertuanya Nyonya Toshi malah membela Parmeet.

Cerita lengkapnya baca ditulisan ini : Mohabbatein Sinopsis Parmeet Menggoda Ishita.

Ishita meminta Sarika memastikan apa Parmeet yang telah melakukan pelecehan padanya di Dubai.
Sarika mengiyakan, “dia telah banyak menyusahkan ku dikantor.”

Mohabbatein Raman Membuktikan Ishita Tidak Baersalah Dlm Kasus Pelecehan Parmeet

Ishita memikirkan kebohongan Parmeet, “dia menceritakan kisah yang berbeda dikasus ku ini.”
Sarika juga menjelaskan, “aku tahu ia mengambil uang darimu, tapi ia tidak memberiku banyak uang. Dia mengancamku. Aku mendukungnya untuk meminta uang karena ibuku sakit. Dia memberiku Rs 3 lakh.”

Ishita memberitahu, “kami memberinya Rs 15 lakh. *terbayang Raman yang memberi uang* Luar biasa, seperti pembohong besar. Ia menipu kami setiap hari. Ia selalu berbohong padaku. Ia pertama melecehkanmu dan sekarang aku. Aku tidak percaya bahwa menantu keluarga kami bisa melakukan hal ini. Ia adalah orang yang berbahaya. Ia tidak akan berhenti berbuat. Ia akan mengulang ini lagi.”

Di rumah, Parmeet mengemas tasnya.
Simmi bertanya, “kau mau kemana.”
Parmeet mengatakan bahwa mereka harus pergi dari sini.
Nyonya Toshi bertanya, “hei, apa yang terjadi.”
Parmeet nyahut, “kami akan pindah dari sini ke ruangan lain.”
Nyonya Toshi ceramah, “kau akan tinggal di rumah petak. Pegawai kita yang tinggal disana.”
Parmeet sok terima keaadaan, “kami akan menyesuaikan disana.”
Simmi jadi khawatir, “tolong beritahu aku, apa ada yang bilang sesuatu.”
Nyonya Toshi juga meminta Parmeet untuk tidak khawatir tentang Ishita.
Simmi juga mengingatkan, “aku kan sudah memberitahu mu, itu sudah berakhir.”

Parmeet mengatakan bahwa ini rumah Raman dan istrinya.
Nyonya Toshi tentu saja membantah itu, “tidak. Ini rumah suamiku.”
Parmeet memanfaatkan situasi, “tidak, ini tidak boleh mengganggu hubungan keluarga.”
Nyonya Toshi meyakinkan, “aku seperti ibumu, jangan pergi.”
Simmi memeluk Parmeet, “jika kau tidak disini, kita akan menjadi tunawisma.”
Parmeet kayak luluh, “baik-baik, aku akan tinggal disini. Mari kita nonton film dan makan malam.”
Nyonya Toshi kegirangan.

Parmeet tersenyum dan berpikir, “Ishita, semua orang akan pergi untuk nonton film dan kita bisa lebih dekat.”

Sementara itu, Ishita masih bicara dengan Sarika, “aku akan membantumu. Dia melakukan kesalahan. Apa aku harus beritahu suamiku sekarang. Aku akan menunjukkan padanya tempatnya. Aku akan memberitahu semua orang tentang dia. Aku akan membuat dia dihukum, tapi aku butuh bantuanmu.”

Sarika bilang, “bantuan?”
Ishita menjelaskan, “kau akan membantuku.”
Sarika setuju, “ya, aku akan membantumu.”
Ishita menegaskan, “sekali kebenarannya keluar, dia tidak akan bisa melecehkan siapapun.”

Di Mumbai, Shagun memberitahu Ashok, “Aditya tidak sehat. Kami coba untuk menghubungimu. Bagaimana kau bisa begitu tidak bertanggung jawab.”
Ashok membela diri, “aku datang kesini untuk bisnis. Ponselku di silent.”
Shagun meradang, “kau mabuk. Selalu ada pasang surut dalam bisnis. Bukan berarti kau menjadi Dewa. Kita akan ke Delhi, Aditya tidak baik.”
Ashok memutuskan, “tidak, biarkan dia beristirahat disini.”

Dokter datang untuk melihat kondisi Aditya, “Raman yang telah memintaku.” Ashok tampak tak mengerti.

Di kediaman Bhalla, Parmeet yang datang berkata, “mari kita pergi.”
Semua orang bersiap-siap.
Parmeet bertanya pada Rinky dimana Ishita.
Rinky mengeluarkan ponselnya, “telpon kakak tidak aktif.” Kemudian melanjutkan menelpon klinik. Petugas yang menjawab bahwa Ishita sudah meninggalkan tempat praktek.

Parmeet merebut ponsel dari Rinky dan bicara dengan penjaga klinik, “bisa tanya resepsionisnya.” Si penjaga bilang jika Ishita keluar bersama Sarika.

Parmeet jadi tegang, bergumam, “semoga Sarika tidak mengatakan apa-apa pada Ishita. Jika mereka bersengkokol, mereka tidak akan melepaskanku. Aku harus memikirkan sesuatu.”

Di Mumbai, dokter memberitahu Shagun bahwa Aditya baik-baik saja, hanya perlu makanan ringan. Si dokter juga jelaskan, “Raman mengatakan padaku bahwa dia dengan Aditya sepanjang malam.” Dokter pun keluar.
Ashok yang masih belum tahu situasinya menatap Shagun, “Raman disini sepanjang malam.” Shagun tak bisa mengelak, “begitulah, Aditya tidak sehat.”

Ashok marah, “dia merebut semuanya dariku, pertama bisnisku dan sekarang ke kamar tidurku. Aku akan beri pelajaran dia.”
Shagun coba menenangkan, “reaksimu terlalu berlebihan.”

Mihir sedang bicara lewat telpon pada Raman, “Ishita baik-baik saja. Bibi juga mengatakan semua baik-baik saja. Apa aku harus memastikannya nanti malam.”

Raman yang sedang berkemas mengatakan tidak perlu, dia akan nyampai rumah sekitar jam 11 malam. Raman menutup telpon.

Ashok munncul dikamar hotel Raman, “apa yang kau lakukan dikamar tidurku.”
Raman sebelumnya protes karena Ashok ga sopan main nyelonong aja, “pikiran murahan dari manusia murahan. Aku dengan anakku.”

Ashok tak percaya, “kalian berdua merencanakan semuanya biar anak itu sakit.”
Raman meradang, “hentikan omong kosong ini.”
Ashok kayak ngancam, “Shagun mantan istrimu, dia meninggalkanmu dan tinggal bersamaku.”

Raman tak berminat meladeni Ashok, “aku harus bersiap-siap sekarang, keluar dari sini. Kalau tidak aku akan mengambil 40% proyek yang untukmu itu. Aku sudah menikah dan bahagia.”

Ashok ngejek dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Raman.
Raman meladeni, “sekarang pernikahanku sudah menjadi sebuah hubungan. Kau tidak akan memahami hal seperti itu.”

Setelah Ashok keluar, Raman coba menelpon Ishita kembali tapi tetap mati. Ia berharap semua baik.

Ashok yang kembali ke kamarnya bilang pada Shagun bahwa dia akan telpon Ishita dan memberitahu bahwa Raman bersama Shagun sepanjang malam.
Shagun tak setuju, “kau mau membuat namaku hancur.”
Ashok ngejek Shagun, “kau? Apa yang kau pikirkan, kau bukan Nyonya Khanna atau pun Nyonya Bhalla.”

Shagun coba meredakan keinginan Ashok untuk menghancurkan Raman, “kau tahu benar bahwa tidak ada yang terjadi diantara kami.”
Ashok malah meragukan Shagun, “ketika kau masih istri Raman, kau lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku. Saat Raman membaik, kau kembali mendekatinya. Kau seorang oportunis.”
Shagun kesal, “kau menjijikkan.” kemudian meninggalkan Ashok.

Ashok menelpon nomer Ishita, tak bisa. Ia bergumam, “aku tahu siapa yang harus ku telpon sekarang.”

Sementara itu, Ishita masih dijalan, ia memikirkan ucapan Vandu dan Sarika, “apa yang harus ku lakukan sekarang. Jika ku katakan semua, keluarganya akan hancur. Tapi akan jadi masalah besar jika aku tidak berbicara.”

Ishita semakin terlihat bingung, “Sarika yang malang. Parmeet menipu kita begitu banyak. Tidak ada yang berlebihan terjadi padaku, aku masih dilindungi. Apa aku memberinya satu kesempatan lagi, karena ia memiliki istri dan anak. Baiklah, aku akan bicara dengannya, tapi tidak sendirian. Di depan Simmi dan ibu mertua.”

Di rumah, Parmeet meminta Rinky untuk pergi dan biarkan dia yang menyusul dengan sepeda motor. Rinky pun keluar.

Parmeet pun menunggu Ishita di rumah sambil menenggak minuman.

Ishita sampai di depan rumah. Ia masih sibuk menimang dan berpikir, “Simmi dan ibu mertua tidak akan mendengarkanku. Tapi aku harus mencobanya. Semua akan baik-baik saja.”
Ia menekan bel. Tak ada yang membukakan pintu.

Ishita membuka pintu dengan kunci dan melihat ruangan sepi. Dia memanggil Rinky dan ibu mertuanya.

Ishita terus berjalan ke dalam ruangannya, menutup jendela karena angin bertiup kencang. Ia heran, “semua orang pergi kemana.”

Saat berbalik, ia terkejut melihat Parmeet berdiri di pintu sambil menatapnya.
Parmeet bicara, “semua orang pergi untuk menonton film, mereka coba menelponmu.”

Ishita mau keluar ruangan dan berhenti di depan Parmeet, “permisi.”
Parmeet mempersilahkan dengan memberi sedikit ruang. Ishita lewat dengan wajah jijik.
Parmeet terus mengikutinya, “kau tidak bertanya kenapa aku tidak pergi. Aku sengaja tinggal disini menunggumu. Saat semua orang di rumah kau sangat khawatir. Sekarang hanya ada kau dan aku. Ini yang kau inginkan kan.”

Ishita menaikkan nada suaranya, “berhenti.”
Parmeet menunjukkan wajah sabar, “baik, kita punya banyak waktu.”
Ishita menatap tajam Parmeet, “apa yang kau katakan. Kau menakutiku di rumahku. Aku menantu di rumah ini. Aku tidak seperti Sarika yang hanya diam.”

Parmeet menunjukkan wajah senang, “kau tahu tentang Sarika? Dia seorang wanita yang punya pilihan, kau berbeda. Kau jangan menyamakan seperti itu. Aku melakukan apapun untukmu. Kau hanya perlu memberitahuku apa yang harus dilakukan.”

Ishita menunjukkan wajah menahan marah, “aku peringatkan kau. Kau pergi dari sini.”
Parmeet memegang tangan Ishita dan memberikan gelas air yang tadi tidak jadi diminum Ishita.

Ishita menegaskan, “tinggalkan aku.”
Parmeet malah mendekat, “aku peduli tentang kebaikanmu. Saat aku datang ke keluarga ini, kau melakukan banyak hal untukku dan keluarga ini. Untuk Raman, untuk Ruhi. Tapi aku kasihan karena Raman mengabaikanmu.”

Parmeet membuat Ishita yang ketakutan untuk duduk, “Aku menahan hati melihat Raman tidak memahamimu. Aku akan memberikan semua yang tidak kau dapatkan dari Raman. Mendekatlah Ishita. Kau akan tahu kesenangan berada dalam dekapan pria.”

Ishita yang ketakutan hanya bisa bilang diam.
Parmeet terus bicara, “tidak ada yang akan terjadi. Kau tidak bisa menjadi seorang ibu, tidak akan ada efek samping. Raman sedang di hotel di Mumbai, dia mungkin bersama wanita lain. Kau juga harus punya seseorang yang memenuhi kebutuhanmu.”

Ishita melayangkan tamparannya, “tutup mulutmu dan menjauhlah dariku.”
Parmeet mengusap pipinya, “aku sedang berbicara padamu dengan cinta dan kau menamparku.”
Ishita kembali menampar Parmeet.

Parmeet marah, “aku akan menunjukkan jawaban dari tamparanmu.” Dia semakin dekat dengan Ishita. Ishita coba menjauh. Parmeet memegang tangan Ishita, “aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu mudah. Aku akan melakukan hal itu, sehingga kau tidak bisa menunjukkan wajahmu pada siapapun.”

Ishita menghindar, tapi dia terjatuh ke lantai. Ia berteriak. Parmeet mendekat.

Raman sudah mendarat di Delhi sambil mengeluh, “cuaca luar biasa. Ada apa ini.”

Raman nyampai rumah dan bertemu semua keluarga. Nyonya Toshi langsung nyerocos, “kau bersama Shagun. Ashok memberitahu ini dan mengejekku. Mengapa kau memberinya kesempatan.”

Raman kesal mendapat sambutan seperti itu, “aku pergi karena Aditya. Dia kurang sehat. Ia keracunan makanan. Sekarang udah baik.” Raman pun bertanya keberadaan Ruhi dan Ishita.

Nyonya Toshi memberitahu kalau Ruhi di rumah Vandu dan Ishita tidak di rumah, tidak tahu dimana keberadaan. Mungkin dia kesal, mungkin Ashok memberitahunya juga tentang kau dan Shagun.

Raman kesal pada Ishita, “dia meninggalkan rumah tanpa memberitahu siapapun. Ini kelewatan. Mana dia peduli, dia tahu pernikahan ini hanya kompromi. Wanita aneh.

Raman pun menjelaskan pada ibunya kalau ia sudah menelpon berkali-kali. Dia akan segera kembali, aku tidak akan mencarinya.

Nyonya Toshi sewot, “pergi dan cari ke rumahnya. Jika Ishita disitu, dia mungkin sudah mengatakan pada semua orang tentang kesalahanmu. Aku tidak mau malu karena ulahmu itu. Pergi sana.”

Raman jalan sambil bersungut. Yang membukakan pintu Trisha. Trisha memberitahu, “semua orang pergi ke rumah Vandu untuk ulang tahun Shravan.”

Raman memastikan apa Ishita juga ikut. Trisha bilang tidak. Tadi ia melihat Ishita dibawah, terlihat kesal, saat dipanggil tidak merespon. Raman merasa ada sesuatu yang aneh. Trisha menawarkan apa ia perlu menghubungi Tuan dan Nyonya Iyer. Raman bilang tidak perlu.

Mihir mengatakan ia melihat Ishita memang tegang tadi.
Raman memanggil Romi, “aku akan menemui Ishita dikliniknya.”
Romi pun menyampaikan pada semua orang. Parmeet mendengar juga.
Simmi langsung merespon, “itu rencana Ishita melawan Parmeet.”
Parmeet menelpon seseorang dan mengatakan aku telah mengajarinya pelajaran yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.

Raman coba menelpon Bala, tapi tidak aktif juga. Dia pun mencoba ke Vandu, Ruhi datang dan ikut bicara. Ruhi menanyakan kenapa ia dan ibu tidak datang. Raman beralasan dia datang terlambat, makanya mereka tidak bisa datang. Ruhi tidak masalah, ia akan bawakan kue untuk ayahnya itu. Raman mengatakan ia mencintai Ruhi dan mengucapkan selamat malam.

Raman sampai di klinik dan menanyakan Ishita. Penjaga memberitahu kalau Ishita tidak ada dan heran kenapa semua orang mencarinya. Dia pergi dengan Sarika.
Raman mengatakan jika dia suami Ishita.
Penjaga mengatakan bahwa ada sesuatu yang mencurigakan.
Raman pun meminta pada penjaga untuk menghubunginya jika tahu sesuatu tentang Ishita. Raman menjelaskan jika Ishita menghilang sejak 6-7 jam dan akan mengadukan pada polisi.
Raman pun ke kantor polisi dan membuat laporan.

Raman berdebat dengan inspektur. Ia marah dan minta bicara dengan komisaris. Ia menunjukkan foto Ishita.
Si inspektur malah menambahkan keterangan, “dia seorang dokter.”
Raman bingung, “bagaimana kau tahu.”
Si polisi bilang bahwa ia harus ke dalam. Raman bertanya kemana. Polisi pun menyuruh Raman untuk lanjut, “terus, kau akan tahu segalanya.”
Raman melihat Ishita dalam jeruji dan terkejut.

Ishita menatapnya dan menangis.
Raman berkata, “siapa yang membuatmu dipenjara?”

Bala datang kantor polisi dan mengatakan bahwa ia datang untuk membebaskan Ishita. Dia wanita yang dihormati, ada kesalah pahaman. Kita bisa mengatasinya, saya kakaknya. Inspektur memberitahu bahwa suami Ishita juga datang. Inspektur membawa Bala kedalam.

Raman bertanya pada Ishita apa yang dilakukannya. Ishita memintanya untuk membalas. Raman bingung, “bagaimana aku akan membantumu jika kau tidak memberitahuku.”

Bala sampai dan menyapa, “kau disini Raman. Jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja.”
Raman pun menyambut, “syukurlah kau datang. Apa yang dia lakukan.”

Inspektur yang nyahut, “dia ada disini karena dia melakukan tindakan memalukan.”
Bala bersuara, “sebelum terbukti, dia tidak bersalah. Ishita telah dilaporkan karyawannya, Sarika dan mengancam bahwa dia akan membunuh ibunya.”

Raman bersuara, “dia seorang dokter yang berpendidikan, dari keluarga yang baik, bagaimana anda menangkapnya tanpa surat perintah apapun.”
Inspektur menjelaskan, “Sarika yang memberi pernyataan itu langsung pada dirinya. Aku tidak akan membebaskan dia sebelum pagi.”

Raman berkata, “aku akan membuat semua ini jelas.”
Bala bertanya apa yang dia lakukan.

Pengacara datang dan memberitahu Raman bahwa Ishita mendapat jaminan, ga perlu khawatir.
Raman memintanya untuk bicara dengan Inspektur.

Inspektur pun berkata, “ya, mereka orang-orang kaya, membawa Ishita keluar.”
Raman pun mengajak semuanya pergi.
Inspektur mengatakan bahwa ada beberapa prosedur.
Bala yang menjamin agar membiarkan mereka pergi, i yang akan bereskan semuanya.
Bala meminta Raman mengantar Ishita ke rumah
Raman dan Ishita keluar.

Raman bertanya pada Ishita tentang Sarika dan semuanya. Ishita mengatakan bahwa ia tidak akan diam. Aku akan memberitahu segalanya, tapi tidak disini, dirumah, di depan semua orang. Raman bingung, “tapi,,” Ishita terus jalan.

Halaman berikutnya Mohabbatein Sinopsis Raman Membuktikan Ishita Benar