Raman sedang bermain karambol dengan ayah dan saudaranya. Ishita membawa sarapan untuk mereka. Mihir datang dan mengatakan bahwa ia melihat semuanya sibuk sebagai keluarga. Agar ada waktu satu sama lain, sebaiknya memesan tempat. Ia mengingatkan Raman bahwa malam ini ada jamuan bisnis dan mengingatkan Ishita untuk pergi bersama juga karena orang-orang akan datang sengan istri mereka.

Raman membathin bahwa ia punya masalah baru, si Mihir juga ikutan memikirkan Ishita, ia harus menenteng istrinya itu lagi.

Ishita menolak dengan alasan ia tidak mengenal satupun rekan bisnis Raman. Ia akan canggung disana. Lagian, ia harus mengurus Ruhi.
Mihir membuat berbagai alasan agar Ishita setuju.
Ishita melihat Raman dan mendapatkan senyum besar. Ishita tetap mengatakan tidak.

Tuan Bhalla ikut bersuara, Ishita harus ikut. Gimana mau kenal mereka kalau ia tidak ikut.
Mihir sependapat. Ia jamin Ishita akan senang disana. Mereka harus tampil formal dengan berpakaian baik untuk kesan pertama. Mihir sangat senang, tapi Raman dan Ishita saling jengkel.

Raman meminta Ishita untuk tidak menggantung pakain panjangnya. Ia melihat Ishita memilih sari merah sambil berkata bahwa orang asing senang melihat pakaian tradisional.

Raman berpendapat bahwa Ishita seperti akan tampil diacara pemilu, ruangan mewah, bukan aula asosiasi Tamil dimana orang-orang akan membawa bunga dikepala mereka. Ia minta meninggalkan taman di rumah, itu pesta berkelas, jangan jadi tukang kebun dimana-mana, jangan permalukan dia.

Ishita protes kalau dia sudah menolong Raman dengan datang ke pesta, ia sakarat untuk melakukannya.
Raman ngejek kalau Ishita masih bicara, tidak mati.

Ishita kesal, “ya, kau yang akan ke ICU, karena kau begitu serius. Kau melakukan hal serius seperti membuat kerusuhan, kuliah serius.”
Raman ngedumel, berhenti jadi nyinyir, tersenyum karena kau memiliki gigi yang bagus. Ambil beberapa tips dari kelas perawatan, siapa tahu kau mungkin terlihat baik dalam pakaian barat.

Raman meningalkan Ishita dengan wajah mengejeknya.

Ishita meminta Dewa agar memberinya kekuatan. Raman Kumar apa yang harus ku pakai sekarang.

Mihir mengatakan rencananya pada semua orang, ia membuat Ishita dan Raman menghabiskan waktu satu sama lain pada tanggal romantis ini.
Ruhi bilang Mihir bohong.
Mihir mengatakan bahwa ini rahasia, jangan kasih tahu Ishita.
Ruhi menggoda neneknya.

Mihir mengatakan ia harus melakukan beberapa persiapan.

Tuan Bhalla mengatakan bahwa Mihir melakukan banyak hal untuk Raman, ia juga akan siapkan aula yang baik untuknya dalam pertunangannya.
Nyonya Toshi marah karena ia punya banyak hal yang harus dipikirkan yang membuat khawatir. Harusnya mendukung Simmi. Kita bicara nanti, kita lihat tempanya dan meminta Simmi untuk datang.

Nyonya Toshi mengatakan tak masalah, setelah mereka pergi, mereka semua juga akan pergi. Romi setuju, Simmi juga suka, makanya mereka harus pergi.
Simmi mengatakan ia baik-baik saja dan keluar.
Nyonya Toshi mengaatakan semua akan baik.

Ishita mendengar pembicaraan bahwa semua orang akan keluar, ia berharap ikut bersama mereka. Lebih baik ikut bersama keluarga daripada pergi bersama Raman.

Vandu mendengar beberapa siswi memuji Bala dan akan ambil kuliah minggu untuk bisa melihatnya.
Vandu mengatakan bahwa pilihannya baik dan suaminya masih disukai. Ia menemui Bala yang masih istirahat. Ia langsung nyerocos apa Bala berpenampilan untuk mengesankan muridnya. Bala merespon, apa yang harus ia lakukan, ia harus menjaga persaingan panas dengan istrinya. Mereka semakin dekat.

Romi datang, Vandu menjauh.
Romi bertanya tentang dokumen. Bala menandatangani. Romi terlihat jadi tenang, Vandu memperhatikan.
Bala memberitahu bahwa ia memberi soal yang mudah agar semua lulus.
Vandu mengatakan kekhawatirannya melihat kedekatan Bala dengan Romi karena ia dapat info bahwa Romi dekat dengan Jaffer.
Bala beralasan ia hanya mempermudah.
Vandu bilang dia harus pulang karena akan menjemput Shravan untuk makan malam.
Begitu istrinya pergi, Bala khawatir, berharap Romi tidak mengatakan semuanya di depan Vandu, bodoh, aku minta maaf Vandu, aku tahu aku harus menceritakan semuanya, aku harus membersihkan semua kekacauan ini. Aku harus membuat Romi percaya dengan caraapapun.

Ruhi datang pada Romi, bertanya bagaimana ia mencarinya. Romi dan Ruhi melihat Raman. Ruhi berkomentar bahwa ayahnya seperti James Bond.
Raman nyahut, “sejak kapan kau nonton film James Bond.”
Romi membela Ruhi bahwa menonton bersamanya.
Ruhi penasaran dengan apa yang akan Ishita pakai. Romi juga, kenapa belum muncul juga. Mereka pun pergi melihat Nyonya Toshi.

Raman turun dan sopir bilang akan mengisi bensin. Raman bilang cepat dan segera kembali. Raman bertanya dimana Ishita. Ia mulai ngomel berapa lama lagi, apa dia ga punya akal. Ia pun mencari sambil merepet dia masih dikamar mandi sampai sekarang. Tidak ada mata yang akan memperhatikannya sepanjang malam, makan malam, selesai, buruan.

Raman dapat telpon dari Tandon. Dan mengatakan untuk tak khawatir, ia akan melakukan yang terbaik untuk Mihir dan Trisha.

Tuan Bhalla bertanya apa Raman pergi. Ruhi mengiyakan dan ayahnya terlihat seperti James Bond. Romi juga mengiyakan, tadi mereka meninggalkan dan sekarang mobilnya tak ada.
Nyonya Toshi berkata ia belum melihat dan memberitahunya hari ini.
Mereka melihat keluarga Iyer tidak dirumah karena rumah terkunci.

Raman mengetuk kamar mandi, “Ishita, kita harus pesta di rumah.”
Raman bergumam kemana semua orang. Ia hendak turun tapi pintu terkunci. Ia memanggil, Ayah, Romi,, siapapun yang disana.

Ishita muncul dan berkata, “Raman, kau masih disini, apa yang terjadi, kenapa kau berteriak.”
Raman berbalik dan terpana dengan apa yang dilihatnya. Ishita sangat cantik dalam balutan gaun biru kesukaannya. Musik pun bermain.

Ishita mendekat dan bertanya apa.
Raman kehilangan kata-kata, aku tidak punya kata-kata untuk pertama kalinya. Kau terlihat baik.
Ishita ngejek, apa ia perlu kelas perawatan sekarang.
Raman tersenyum dan bilang tidak.
Ishita bertanya apa mereka akan pergi sekarang.
Raman bilang Ya, hanya dokter dan guru dalam keluargamu. Atau kau mempunyai profesi pencuri dalam keluargamu, sepertinya ya karena pintu terkunci.

Ishita bilang apa, jangan bilang semua orang meninggalkan kita disini dengan mengunci kita. Kau berada diluar, mereka tidak melihatnya. Aku, Tuan India. Jangan memuji diri sendiri, kau bukan Mr. India, tapi Mogambo.

Raman balas ngedumel payah memiliki istri sepertimu. Aku sedang menelpon di dalam, apa mereka tidak melihatku.
Ishita bilang itulah kesalahan Raman.
Raman mengatakan ya, ia melakukan kesalahan besar menikahi Ishita.

Ishita bertanya apa yang akan mereka lakukan. Raman akan menelpon dan mereka akan kembali. Ishita tidak setuju karena mereka pergi dengan Simmi, biarkan mereka menikmati itu.

Raman ngomel, memangnya ilham muncul di kamar mandi, kau bicara pintar. Ini masalah, aku harus menghabiskan waktu bersamanya sekarang.
Ishita juga berpikir sama, Dewa akan memberinya kekuatan. Ia tersenyum.
Raman membathin, mengapa ia tersenyum, apa ia akan menyerangku. Ia pun berkata, kau melarangku menelpon mereka, apa kau berencana menyerangku sendirian.
Ishita sewot, apa kau pikir kau itu Shahrukh Khan.
Raman membalas, jika itu ya, maka aku menikah dengan Lalita Pawar.
Ishita tidak tertarik membahas itu.

Keduanya duduk dimeja makan, tapi melanjutkan debat kusir yang lucu itu. Ishita minum dan meludah. Raman bilang itu terlihat gila.
Ishita tertawa, ini seperti kebetulan. Aku pernah terkunci di rumah Vandu. Raman merespon, “sendirian?”
Ishita bilang tidak, dengan Subbu. Kami belum bertunangan waktu itu, kita akan nonton film. Vandu dan Bala salah paham dan mengunci kami. Kami di kamar Subbu untuk melihat persentasi. Tapi Bala segera kembali karena lupa sesuatu dan melihat kami di rumah. Sekarang semua terjadi lagi.

Raman protes, tidak sama, ada perbedaan. Saat itu kau sedang menikmatinya dan Bala menghentikan kesenangan itu. Disini tidak ada yang menyenangkan.
Ishita bertanya apa Raman merasa tak nyaman mendengar nama Subbu.
Raman menunjukkan wajah semangat, tentu, seorang pria dapat saling memahami. Bisa kau bayangkan apa yang Subbu rasakan saat terkunci dengan seorang gadis sepertimu. Terima kasih Tuan Bala menyelamatkan saudaranya.

Ishita kesal, aku tak berminat bicara denganmu, aku akan membatalkan pergi.
Raman menegaskan tidak ada yang dibatalkan, jika mereka kembali, kita tetap akan pergi dan menunjukkan wajah kita pada investor, kembali duduk, mari minum dingin. Apa kau selalu seperti ini, memberikan kuliah atau membuat semuanya sesuai keinginanmu.

Ishita bertanya balik, Apa kau selalu bersikap kasar begitu saat kuliah atau tamparan setiap gadis yang membuatnya begitu.
Raman bilang itu tidak mungkin. Ishita menyimpulkan pastinya gadis-gadis enggan datang mendekat untuk mendengar ucapannya yang kasar.
Raman bilang kalau dia punya satu gadis saat kuliah, namanya Sonali.

Raman tersenyum, seperti mengenang masa indahnya waktu kuliah, Semua orang memanggilnya Sona dengan penuh cinta. Ishita bertanya apa Raman juga. Ia memberi tanda iya, lupakan, ini udah lama.
Ishita bilang tak peduli, bagaimana Soni.
Raman memperbaiki, Sona, dia seperti peri, bidadari, sangat cantik, dengan mata bulat dan rambut panjang, lebih panjang dari rambutmu.
Ishita terlihat cemburu.

Raman meneruskan ceritanya, saya sangat pemalu saat kuliah, tidak bisa mengatakannya padamu, dan satu hari, lupakan itu, apa kau ingin tahu tentang itu. Ishita bilang ya, tapi cerita yang lengkap.
Raman melanjutkan, kau ingin tau. Ishita memberitanda ya.
Raman meneruskan, aku sedang menunggu di halte bus dan dia datang, sehingga aku malu dan tidak bisa menatapnya, sebuah keajaiban terjadi, dia datang bicara padaku. Dia membantuku dalam belajar, kami akan mempunyai grup belajar dan memanggilku jenius.

Ishita berkomentar, mungkin dia buta.
Raman bilang sudahlah. Ishita minta diteruskan. Raman pun mengenang, lalu bus datang, dan kami duduk dikursi yang sama, sangat dekat. Ia tampak begitu cantik, selama ini selalu melihatnya dari jauh, ternyata sangat cantik. Dia bilang padaku apa aku merasa tak nyaman. Aku menjawab bagaiman bisa dan memegang tangannya.

Raman mencontohkan dengan memegang tangan Ishita, hingga mereka saling tatap. Raman melanjutkan ceritanya, Sona memiliki dua mata yang besar yang berair dan kemudian aku mengerti dia mencintaiku. Musik latar bermain. Ishita menatap Raman.

Ishita kemudian menarik tangannya, ini tanganku.
Raman bilang, seperti ini aku saat memegang tangan Sona. Aku tahu kenapa kau kesal. Ishita menantang, kenapa aku kesal, aku tak peduli.
Raman senyum tertahan, kau harus belajar berbohong dariku, tidak ada Sona, kau terbakar seperti jangung, aku bercanda. Aku tahu hanya satu Sona, istri teman ku, seorang penulis.

Raman puas, kau tertipu begitu mudah. Aku membuatmu melupakan rasa bosan menunggu, tapi aku mengarang kisah cinta yang baik.
Ishita sewot, omong kosong, tapi setidaknya Subbu itu nyata, bukan sosok imajinasi seperti Sona. Kemudian pergi.

Raman bergumam, dia merasa cemburu, Madrasan.
Ishita masih sewot karena dibohongi.
Raman menelpon Mihir. Mihir bilang klien akan menunggu. Ia sedang makan malam dengan Trisha. Trisha memintanya untuk menerima panggilan tersebut. Mihir bergumam bahwa Raman akan memarahinya karena telah mengirim mereka pada tanggal romantis dengan berbohong makan malam dengan investor. Dia pasti akan marah, lebih baik tak diangkat.

Raman kemudian menelpon Mr. Mehta dan mengatakan ia meminta maaf karena tidak bisa datang tepat waktu. Mr. Mehta bingung, karena tidak ada yang memberitahunya. Raman menutup telponnya dengan tangan, ngedumel, “Mihir berbohong padaku.” Ia kemudian melanjutkan telpon dan minta maaf karena salah menelpon. Mehta mengatakan gak apa-apa, dan mereka akan bertemu minggu depan. Raman menutup panggilan.
Raman ngedumel, “Mihir bodoh itu membohongiku.”

Ishita berdiri di balkon sambil menunggu semua orang.
Raman ke dapur dan kembali ngomel, aku lapar tapi tidak ada makanan untuk dimakan.

Ishita bilang ia akan membuat sesuatu. Raman komplain, inilah hidupku, harus makan yang kau masak, hidup macam apa ini.
Ishita bilang jangan terlalu rewel.

Lampu mati. Raman bilang ini hari sial dalam hidupnya. Ishita minta dia tenang, ia akan menyalakan lilin. Ia hampir jatuh dan Raman menangkapnya. Mereka saling tatap. Musik bermain dilatar.

Raman mengingatkan untuk berdiri baik dan benar. Ishita mengucapkan maaf. Raman bilang ia akan mengambil lilin. Ishita bilang bagaimana, semua gelap. Raman mengatakan ia menggunakan penerang ponsel. Ishita bilang hti-hati.
Raman bilang ini rumahnya, ia bisa jalan dengan mata tertutup. Ia jatuh.
Ishita bertanya apa yang terjadi. Raman bilang ga ada apa-apa, ponselnya jatuh. Ishita heran karena kedengarannya keras. Raman bilang ia punya ponsel yang besar juga. Ishita tertawa.

Raman berhasil menyalakan lilin. Ishita bilang apa yang mau dimasak. Raman menyebutkan. Ishita ngusulkan untuk pesan aja. Raman mengingatkan gimana mau pesan, pintu terkunci.

Ishita mengatakan hanya ada suji sekarang. Raman merespon itu lebih baik daripada mati kelaparan. Ia kemudian membantu Ishita.
Tangan Ishita terluka oleh pisau. Darahnya keluar. Raman ngedumel ia akan mati kelaparan sekarang. Ini kedua kalinya Ishita terluka, coba pelan, kau akan mati. Raman membalut luka Ishita.

Raman bilang searang apa. Ishita menyerahkan apa Raman ada ide lain, ia akan jadi guide dan Raman yang masak. Raman setuju, katakan apa yang harus ku lakukan. Dia mulai memotong sayuran dan bawang. Ishita tersenyum melihat Raman memasak sambil membantu dengan tangan kirinya. Mereka memasak bersama. Musik latar bermain.

Mereka membuat Suji.
Seorang pencuri datang dan berkata listrik padam di Delhi. Keluarga Bhalla pergi dan tidak satupun di flat 302.

Raman berkata ia tak suka makanan ini. Ishita mengatakan yummy. Raman bilang ini Malai Makhan.

Ishita mengingatkan jangan buat itu Punjabi, ga masalah kau tidak suka. Raman bilang baik, ia sedang sakarat menahan lapar.

Pencuri masuk.

Ishita mengatakan kau dengar suara. Raman bilang mungkin sesuatu terjadi diluar, lanjut makan aja. Mereka mendengar suara dari kamar Nyonya Toshi. Ishita bilang mungkin itu pencuri. Raman sependapat.

Ishita berniat untuk melihat. Raman mengatakan jika dia menyerangku. Ishita memastikan apa Raman takut, dia mungkin lebih tinggi darimu. Raman bilang apa Ishita lupa bahwa pernah menyelamatkannya dari premn. Raman bergumam jika dia lebih takut Ishita dibanding pencuri, berpikir memberi uang pencuri itu dan bilang untuk bawa Ishita. Ishita menyuruhnya pergi dan lihat. Raman beranjak.

Pencuri bersembunyi.
Raman masuk dan bersuara siapa. Raman mendekat ke tirai dan bertanya lagi. Si pria nyahut pencuri. Raman bilang apa ini dan melompat ke tempat tidur.
Ishita mendengar.

Pencuri mengatakan ia terlihat seram tapi baik hati. Raman bilang ia takut kecoa, bukan kau. Pria bilang akan membunuhnya. Raman mengatakan hal yang sama. Ok. mereka memukul bersamaan, kecoa pergi dan mereka tertawa.

Raman berkata, kau pencuri. Si pria bilang ya. Raman bertanya bagaimana ia masuk. Pencuri bilang lewat pipa. Raman bertanya lagi apa ga takut. Si pencuri bilang enggak, karena udah biasa. Ishita mengingatkan untuk tidak wawancara, tapi panggil polisi.

Si pencuri setuju, dia benar, kirim aku ke penjara. Istriku mengalahkanku dan membuatku jadi pencuri apa saja, tidak membiarkanku tidur, memintaku mencuri, kirim aku ke penjara.

Raman bilang ia bisa memahami itu, ia tahu rasa sakit si pencuri, duduklah, anggap rumah sendiri, ngasih minum.
Ishita bersuara, aku akan mengalahkannya jika kau tidak bisa. Raman mengatakan dia khawatir.
Ishita marah, kau gila, dia pencuri.
Raman meminta Ishita untuk tidak memanggilnya pencuri, siapa namamu.
Pencuri menyebutkan namanya Sadhuram.
Raman mengingatkan untuk tak menghinanya. Ishita heran Raman berbagi kesedihan dengan pencuri. Raman malah memberi tips pada pencuri dalam menangani istri. Pencuri mengembalikan apa yang diambilnya dan bilang akan pergi.

Raman mengingatkan jika pencuri pergi dengan tangan kosong, istrinya akan memarahinya. Katakan kau mencurinya, dia akan senang, pergi.

Si pencuri mengatakan ia harus keluar dari pintu depan. Raman bilang terkunci. Si pencuri mengatakan ia akan membukanya.
Raman mengingatkan pencuri itu tidak perlu, istrinya pasti sudah menunggu, pergi saja. Hubungi dia jika butuh sesuatu dan jangan biarkan istrinya memerintahnya. Semangat.
Si pencuri mengatakan Raman menyelamatkannya. Raman mengiyakan, tanda persahabatan.

Ishita yang mendengar ini terkejut, ada yang salah, kau tidak berbicara seperti orang normal dan tidak benar berbagi dengan pencuri, kau perlu psikiater. Raman mengatakan bahwa setiap orang berjuang, istri-istri membuat mereka lebih buruk dari binatang.

Ishita pergi, suatu hari dia yang kecurian, aku akan senang. Ia membuang sapu tangan dari tangannya, pria aneh. Ia menemukan radio, menghidupkannya. Ia mendengar pembawa acara berbicara tentang cinta dan meminta pendengar untuk berbagi cerita bagi yang baru menikah. Ia terkejut mendengar Raman yang berbicara tidak ada cinta setelah mneikah, seorang pria tidak bahagia menikah. Ishita terkejut, “Raman?”

Raman masih bicara dengan pembawa acara radio, istrinya suka ceramah, sepertinya mereka tidak cocok. Dia sangat takut, tapi ia harus terus.

Ishita menelpon pembawa acara. Pembawa acara minta Raman menahan pembicaraan. Gantian Raman yang terkejut saat mendengar suara Ishita, “Madrasan ikutan juga.”

Ishita bercerita tentang pria yang menyalahkan perempuan, namanya Tuan Kud Kud Kumar. Aku akan beri contoh, dan menceritakan kisah pencuri. Pembawa acara menikmati cerita mereka. Ishita mengajukan pertanyaan apa yang seorang istri lakukan jika suami seperti itu. Raman nyahut ia terlalu banyak bicara, dia akan muntah kata-kata. Orang-orang baik ada diacara ini, dia Raman Kumar, pendengar program.

Raman ngedumel mendengar Ishita, dia memberikan ceramah juga di radio, aku tidak suka ini. Ishita mulai ceramah tentang laki-laki. Pembawa acara menghentikannya, mengatakan kau banyak masalah, selesaikan di rumah, kami tidak bisa menyelesaikannya di radio.

Raman dan Ishita saling berhadapan satu sama lain.
Ishita mulai ngoceh, apa ini, membuat masalah di radio, berbicara dengan tatap muka. Raman nyahut, apa aku berbicara denganmu sepanjang hari.
Raman datang dan melihat Ishita dibalik tirai. Ia melihat akan terjatuh dan berlari menolong. Raman terluka saat menyelamatkan Ishita. Mereka terjatuh dan terbungkus tirai. Raman bilang, tanganku nyangkut. Aku juga. Keduanya saling tatap.

Episode Mohabbatein selanjutnya, Raman dan Ishita ada di kamar mereka. Raman mendekat dan menyibak rambut Ishita, mencium lehernya. Simmi yang baru datang terkejut melihat mereka begitu intim.