Kawans, episode sebelumnya setelah mendapat laporan Nani, Rathore bekerjasama dengan Tapasya menyelamatkan Mukhta dari keinginan membantu Ichcha agar diakui sebagai menantu di keluarga Bundela dengan rencana menikahi Tej Singh. Impian Mukhta itu diteruskan oleh Tapasya yang memang ahlinya mempermainkan perasaan orang. Dia pun resmi dengan statusnya di rumah keluarga Bundela sebagai istri Tej Singh Bundela, siap menyaingi Gunwanti yang otoriter.

Kisah selengkapnya, ada ditulisan Uttaran: Episode Ichcha Meraih Haknya di Keluarga – Keinginan Mukhta Mengembalikan Kehormatan Ichcha, Pulihnya Ingatan Veer. Kemunculan Tapasya & Pernikahannya Dengan Tej.

Sinopsis episode kali ini adalah Tapasya mulai membalas kesombongan Gunwanti, tetapi menimbulkan guncangan pada keluarga Jogi Thakur karena Tapasya tidak mengijinkan Rathore untuk memberitau tujuannya masuk kembali ke rumah Bundela, selain yang memang sudah tau rencana sebelumnya, yaitu Mukhta dan Nani.

Uttaran Episode Tapasya Menjalankan Misi Membalas Dendam

Tej yang masih melamun di malam pernikahannya, bermimpi dengan membayangkan Mukhta duduk di tempat tidurnya dalam pakaian pengantin lengkap. Wajahnya masih ditutupi dengan ghungat, menunggu Tej melepasnya.

Tej pun membuka ghungat, ia mendapatkan wajah Mukhta yang malu-malu sambil berusaha menahan ghungat. Melihat wajah remaja Mukhta, Tej pun melontarkan rayuannya, “wajahmu yang seperti rembulan cerah kenapa disembunyikan, setidaknya tataplah aku.” Tej pun mengangkat wajah Mukhta dengan tangannya, “sekarang teruslah tatap aku dan masukilah hatiku. Aku Tej.”

Mukhta pun mengangguk malu-malu. Tej meminta Mukhta untuk menyebut namanya. Sebelum Mukhta mengatakan apapun, mimpi Tej buyar gegara Tapasya melemparkan seikat bunga dan Tej pun kehilangan mimpi indahnya.

Tej terkejut membalikkan badan, menatap Tapasya yang berdiri dengan tatap marah. Tapasya berteriak pada Tej yang dipanggil “pati parameshwar ji” untuk bangun. Tej yang diteriakin terkejut dan bangun.

Tapasya memberitau bahwa dalam ruangan itu banyak sampah, dan itu sudah harus bersih saat pagi. Kemudian ia melempar bantal ke Tej untuk tidur di sudut yang jauh di ruangan itu. Sebaiknya Tej cepat istirahat karena mungkin kelihatan sudah lelah oleh usia.

Tej marah karena ia disuruh tidur dilantai, di kamarnya sendiri, sementara akan tidur di tempat tidur seperti seorang ratu. Tapasya malah mengejek Tej, seharusnya berterima kasih pada Tuhan karena masih punya tempat di sudut itu.

Tej coba menggertak Tapasya bahwa ia sandiwara Tapasya ini hanya akan ia dengar sampai pagi. Besok akan ada sidang perceraian di pengadilan, proses kedua juga terjadi bersamaan. Maka Tapasya akan resmi berpisah darinya, sambil menjetikkan jari-jarinya.

Tapasya juga menjentikkan jarinya, sambil mengingatkan Tej, jika bercerai darinya maka Tej akan kehilangan hak propertinya. Itu berarti Tej belum membaca wasiat Daddaji secara benar, siapapun yang dinikahi Tej, itu harus terjadi minimal selama satu tahun untuk bisa mendapatkan warisannya. Biar lebih yakin, Tej boleh menghubungi pengacaranya lagi untuk konfirmasi.

Tapasya pun menunjukkan wajah mengantuk tak peduli sambil menghina dekorasi kamar Tej yang dianggapnya sampah. Tej menggerutu mengutuk Daddaji.

Di rumah keluarga Thakur, Nani menangis teringat Tapasya. Mukhta datang dan mereka saling berpelukan. Mukhta minta maaf ke Nani karena sudah salah memehami si Nani *ga tau dia kalo niat awal Nani emang jahat*.

Mukhta mengatakan dia tidak menyadari cinta Nani yang begitu banyak padanya. Nani pun memberitau bahwa saat Mukhta mempertanyakan cintanya, hatinya sangat hancur.

Mukhta memegang telinganya sebagai tanda janji tidak akan mengulanginya lagi sambil minta maaf. Nani jadi terbayang gaya Tapasya meminta maaf padanya juga seperti itu. Hati Nani pun luluh.

Nani pun ingat efek dari perbuatannya, “apa yang terjadi padaku? Akibat dari kemarahanku, saya memberi usul yang salah pada putriku Tapasya *menikahi Tej*”
Mukhta meminta Nani untuk melupakan semuanya.
Nani terbawa penyesalan, ia tidak pernah menyangka bahwa Tapasya lah yang akan menanggung kesalahan yang diperbuatnya.

Nani tak menyangka Tapasya memberikan pengorbanan besar untuk kebahagiaan Ichcha. Sekali lagi harus mengorbankan cintanya.
Mukhta mengatakan bahwa ia sangat bangga pada ibunya dan itu tentunya akan meringankan beban mereka pada kebahagiaan Ichcha. Nani pun mengangguk setuju.
Ichcha masuk dan meminta Mukhta memberitau apa yang sedang dibicarakan.

Di rumah keluarga Bundela, Tej masih coba menggoyahkan kepedean Tapasya, dia tidak bisa menceraikan, jadi apa? Sebagai suami, ia bisa mengirim istrinya ke Tuhan. Misalnya dengan cara membuat Tapasya jatuh teras, tergelincir dari tangga, gagal mengerem mobil, tabung gas meledak di dapur. Jika dia tidak bisa menceraikan Tapasya, maka dia bisa mengirim Tapasya ke surga.

Tapasya bukannya keder, malah menantang Tej, berterima kasih Tej sudah memberi ide cemerlang itu. Ia pun bisa melakukan hal yang sama tanpa membuat kehebohan, cukup mencampur racun ke dalam teh yang akan diminum Tej.

Tapasya bilang kalau Tej itu begitu polos, lemah hati, tapi ga sadar kalo terkadang nafasnya bisa tersedak. Tej harusnya berpikir jauh, yang man syaraf dikepalanya bisa meledak dan tubuh tuanya akan memiliki banyak masalah, mislanya kenaikan kadar gula.

Tapi Tej tenang aja, ia akan dibuatkan foto yang baik dan diletakkan disebelah foto Daddaji, kemudian diberi karangan bunga yang bagus. Dan dengan senang hati Tapasya akan menggunakan saree putih dari desainer terbaik sebagai janda. Tapasya meminta Tej tidak membuang waktu istirahatnya. Kemudian meminta Tej untuk mematikan lampu dan mengucapkan selamat malam yang indah.

Di rumah Jogi, Ichcha masih menunggu jawaban Mukhta dan Nani tentang apa yang akan mereka bayar. Nani berkilah bahwa mereka hanya membicarakan sesuatu yang tak penting. Ichcha meminta Mukhta mengatakan yang sebenarnya.

Mukhta gelagapan, tapi menjelaskan dengan terbata bahwa Nani sedang menjelaskan padanya bahwa Ichcha Maa sudah berbuat begitu banyak pada mereka dan mereka tidak akan pernah bisa membayarnya kembali. Nani mengangguk cepat, menguatkan ucapan Mukhta.

Ichcha tetap tidak percaya, “saat seseorang berbicara dengan tidak menatap lawan bicaranya, berarti dia menyembunyikan sesuatu”. Ichcha tetap meminta Mukhta mengatakan yang sebenarnya, ia bisa merasakannya sejak Gunwanti datang ke rumah mereka tengah malam dan mulai menyalahkan Mukhta.

Nani menyela Ichcha dengan mengatakan Demi Dewa, bersama dengan Tej Singh, Gunwanti juga berubah gila. Jadi tidak usah dipikirkan. Gunwanti tidak mengatakan yang sebenarnya, makanya dia pergi dalam kemarahan ketika praduganya salah. Gunwanti hanya perlu beberapa alasan untuk menghina keluarga mereka dan memfitnah Mukhta. Tidak ada yang mengerti Gunwanti lebih baik selain Ichcha.

Ichcha memahami apa yang diucapkan Nani, tapi dalam hatinya ada rasa ke khawatiran. Hati seorang ibu. Sebelum keluar, Ichcha pun berpesan pada Mukhta untuk tidak membuat keputusan seperti dalam hidupnya yang akan disesali sepanjang hidup.

Ichcha bergumam, ia berharap Tapasya ada disini melihat bagaimana Mukhta telah dewasa dan menjadi gadis yang penuh pengertian. Ia berharap bisa bertemu Tapasya sekali lagi dalam waktu dekat.

Di rumah keluarga Bundela, Gunwanti sedang menelpon seorang wartawan dan memberi pesanan tulisan yang harus dimuat dalam berita pagi. Berapapun uang yang akan diminta si wartawan takkan masalah.

Gunwanti kemudian menaroh telpon dengan wajah sumringah, “hari pembalasan telah tiba, akan penuh kegelapan dalam kehidupan keluarga Thakur. Tapasya tidak tau dengan siapa dia berhadapan. Hari pembalasan akan lebih gelap dai gelapnya malam untuk keluarga Thakur.”

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk membaca kelanjutannya :