Sinopsis dari kisah drama Cinta Elif (Kara Para Ask) diawali dengan Omer yang sedang menjalankan tugas sebagai polisi. Omer sedang mengawasi seorang lelaki di tembok pembatas kota dengan laut. Rupanya si lelaki yang sedang diawasi memang mengadakan janji pertemuan dengan lelaki lain di tempat itu, mereka saling berjabat tangan. Omer memberi isyarat pada dua orang timnya dengan menggunakan kode jari-jari tangan. Si teman pun mengangguk.

Cinta Elif Kara Para Ask #1 00

Omer kembali mengawasi dua pria yang sedang berbicara di kejauhan. Kedua pria itu kemudian meninggalkan tempat pertemuan mereka. Omer pun memberi isyarat pada dua teman yang tak jauh darinya, kedua temannya pun bergerak mendekati Omer yang mulai mengikuti pria yang sedang di intainya.

Musim dingin masih berlangsung yang ditandai dengan berserakannya salju di pinggir jalan. Lelaki yang di intai Omer berjalan memasuki pemukiman, Omer mengikuti dengan menjaga jarak di belakang. Omer walau sudah memakai jaket tebal, tetap harus menahan udara dingin demi menuntaskan tugasnya. Si lelaki yang menjadi target di gonggong sama anjing yang terikat di sudut rumah yang ditujunya. Si lelaki menghardik anjing tersebut, “diam”, anjing tetap saja menggonggong.

Cinta Elif Kara Para Ask #1 01

Si lelaki kemudian membuka pintu rumah dan masuk, anjing tetap menggonggong, apalagi saat Omer yang mengikuti juga sampai di tempat itu. Omer sudah memegang senjata ditangannya dan memberi isyarat pada rekannya untuk bergerak lebih cepat. Omer berlari dengan sikap waspada, standar pengintaian menuju pintu. Omer dengan pistol siap tembak menghitung dengan jari, kemudian mendobrak pintu.

Lelaki yang di intai, yang sudah duluan masuk rumah, keluar dari ruang lain sambil nyahut, “tunggu sebentar”, dikira pintu rumahnya di gedor. Omer dengan pistol terarah ke si lelaki memberi perintah, “tiarap! tiarap! aku bilang tiarap!”. Si lelaki spontan tiarap. Omer mendekat dengan pistol terarah ke si lelaki di ikuti rekan-rekannya. Omer mulai melakukan prosedur penangkapan, “renggangkan kakimu! Siapa namamu!”, sambil memeriksa kantong celana belakang, serta kaki si lelaki yang sudah tiarap kalau-kalau menyimpan senjata. Si lelaki menjawab, “Birdan”.

Setelah prosedur standar pertama selesai, Omer memberi perintah, “ayo bangun! Cepat ke dinding!”. Si lelaki pun merapatkan tubuhnya ke dinding, rekan satu tim Omer menggeledah. Omer memastikan kondisi rumah yang sedang di sergapnya, “ada siapa lagi di rumah!”. Si lelaki menjawab seperti orang takut, “tidak ada, aku sendiri”. Omer menyimpan senjatanya, membalikkan tubuh si lelaki agar menghadapnya, “baiklah Bird, dimana anak-anak itu”.

Si lelaki yang disergap Omer menunjukkan wajah bingung, “anak-anak apa, aku tidak lihat anak-anak”. Omer menatap mata si lelaki, “kau tidak tau?!”. Si lelaki membela diri, “aku tidak melihat anak-anak”. Omer tak percaya begitu saja, “apa pekerjaanmu”. Sementara sekelompok anak-anak yang mulut dan tangannya di ikat, di sekap di ruang sempit di bagian bawah terjadi keributan, mereka semua mendongakkan kepala ke atas. Si lelaki memberitau pekerjaannya, “aku supir truk”.

Cinta Elif Kara Para Ask #1 03

Omer kembali ke pertanyaannya pertama, “dimana anak-anak itu!”. Si lelaki tetap keukeuh, “aku sudah bilang, aku tidak melihat anak-anak!”. Omer yang terus menatap si lelaki memberitau penilaiannya, “lalu kenapa kau ketakutan”. Si lelaki neglesh, “aku tidak takut”. Omer kesal menepuk kedua bahu si lelaki itu dengan agak keras, “diam disini!”.

Omer kemudian mengidarkan pandangannya ke ruangan tersebut, melangkah beberapa langkah. Si lelaki yang sedang di suruh diam, tanpa sadar matanya melihat ke lantai bawah dengan wajah tegang. Insting Omer sebagai polisi langsung curiga, ia kembali menatap mata si lelaki. Terdengar suara rekan Omer, “disini kosong!”. Omer mendekatkan wajahnya ke wajah lelaki di depannya yang sangat cemas, “lihat apa kau”. Si lelaki memberi respon, “tidak ada”. Omer bersuara pada rekannya, “sini, awasi dia!”.

Mata Omer melihat ke arah lantai, tiba-tiba ia merasa ada yang aneh dengan lantai yang diinjaknya, yang ditutupi karpet, ada bekas tanahnya, ditambah lagi di sofa panjang warna merah yang ada di ruangan itu ada bantal dan kain, seperti habis dipakai, belum lagi lantai disebalah sofa menggunakan keramik. Di lantai keramik itu ada jejak sepatu. Omer kemudian membalikkan sofa merah itu. Lelaki yang mengaku supir truk jadi melongo.

Omer kemudian menarik karpet yang menutupi lantai, lantai kayu itu mempunyai slot kunci, Omer menariknya, ia terkejut melihat anak-anak yang mulutnya semua ditutup kain. Omer kemudian membalikkan badan, menatap lelaki yang sudah bohong sebelumnya, si lelaki semakin pucat, tamatlah nasibnya. Omer kemudian menatap anak-anak yang juga mendongak menatapnya. Omer memperhatikan wajah anak-anak yang sudah dekil, menandakan mereka di sekap disitu sudah beberapa waktu. Omer tersenyum pada mereka, memberikan rasa aman. Omer dan timnya kemudian mengevakuasi anak-anak tersebut.

Cinta Elif Kara Para Ask #1 06

Selanjutnya, di kantornya, Omer dan timnya sudah berdiri di depan, lampu blitz kam kamera tak henti-hentinya menyorot wajahnya. Pimpinannya sedang memberikan sambutan, “kita berhasil menangkap kriminal yang sudah kita kejar berbulan-bulan lamanya. Saya ingin berterima kasih kepada Omer Demir dan timnya, dari departemen penyelundupan dan kejahatan terorganisir, yang telah berhasil mengembalikan anak-anak kepada kita dengan selamat. Tekad bulat Inspektur Omer perlu menjadi panutan bagi seluruh kepolisian”. Hadirin bertepuk tangan. Omer berdiri dengan sikap canggung sambil membenarkan dasinya.

Si kepala kepolisian masih bicara, “dengan rasa bangga, saya ingin mempersembahkan, piagam penghargaan ini atas nama departemen kepolisian, selain itu, saya juga ingin menghadiahkan kepadanya satu bulan liburan, dengan gaji kepada inspektur ku ini”. Salah satu polisi mengambil piagam yang sudah disiapkan, menyerahkan ke tangan kepala polisi Van. Si kepala polisi berkata dengan penuh semangat, “dan ini dia penghargaannya, dia pantas mendapatkannya”, sambil menyalami Omer. Anak-anak yang sudah dipangku masing-masing, yang ada dibangku penonton, berterpuk tangan dengan semangat.

Kepala polisi juga menyerahkan piagam lain pada rekan-rekan Omer, “ayo, kita foto bersama. Silahkan inspektur Omer”. Omer pun melangkah kesamping kepala kepolisian Van dan berfoto bersama. Anak-anak yang mengahdiri acara itu bertepuk tangan, begitu juga dengan orangtua mereka. Omer mengedipkan matanya kepada anak-anak yang sudah menunjukkan wajah kanak-kanak mereka yang bahagia. Omer tersenyum lebar ke mereka.

Cinta Elif Kara Para Ask #1 07

Di tempat lain, Seorang wanita cantik dengan gaya modis sedang menuruni tangga. Ia melangkah di tengah keramain kota dengan bersemangat. Selanjutnya, ia sudah di rungan apartemennya yang mewah. TV flat di ruangannya itu sedang memberitakan pencapaian kepolisian di kota Van. Si cantik itu hanya melirik selintas, mengambil tas, kemudian turun ke bawah, ke kamarnya, mengambil baju hangat dan kopernya.

Kemudian, ia sudah menaiki mobil dengan koper bawannya. Setelah itu si wanita sudah duduk di kursi pesawat, menikmati penerbangannya dengan membaca sambil mengunyah camilan.

Di sisi lain, Omer sudah bersama kekasihnya, mereka selesai menonton di bioskop. Dan saat mereka keluar, kekasih Omer bicara, “kenapa film cinta selalu berakhir menyedihkan”. Omer nyahut, “entahlah, mungkin karena cinta sejati sudah tidak ada lagi”. Kekasih Omer tertegun, menghentikan langkah. Omer yang terus melangkah, menoleh ke belakang, terkejut, kekasihnya melipat tangan di depan dada, merajuk.

Omer tersenyum, melangkah balik ke samping kekasihnya itu, merangkulnya, “kecuali kita berdua”. Kekasih Omer tersenyum senang. Mereka melangkah, kekasih Omer merayu, “apa kau tidak ingin menunjukkan cincinnya padaku”. Omer tak tergoda, “ooo, kau masih terus seperti ini ya, terkadang lebih baik lupakan saja”. Si kekasih tetap ingin tau, “tapi aku penasaran dengan cincinnya, aku tidak akan memakainya, aku janji, aku cuma ingin melihatnya saja”.

Cinta Elif Kara Para Ask #1 09

Omer mengangkat alisnya, “tidak bisa, pertunangannya masih dua hari lagi, bersaabr sedikitlah”. Sibel, kekasih Omer tetap penasaran, “tapi aku tau, pasti ada disakumu kan? Aku sudah tidak sabar, mungkin sebaiknya aku coba dulu, siapa tau tidak pas”. Omer tersenyum dan menatap kekasihnya itu dengan penuh cinta, “hmm, ukuran jarimu sebelaskan”, kemudian melangkah. Sibel menyusul, “bagaimana kau bisa tau?”. Omer tertawa kecil, kembali merangkul wanita yang dicintainya itu. Mereka terus melangkah.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :