Justin kembali melepaskan pelukannya, sambil terus memegang pundak Noor, menatap kedalam mata Noor, “Selama ini aku hanya punya satu alasan untuk mencintaimu, bahwa cintaku bagimu sangat besar, tapi hari ini, hari ini aku punya satu alasan lagi, aku adalah ayahnya Siyamak, mana dia, hah. Aku, aku ingin bertemu dengan putraku, aku ingin memeluk Siyamak, mana dia!”, sambil mengguncang bahu Noor.

Noor menjelaskan, “Dia mengajak teman-temannya untuk keliling istana ini, dia sangat menyukai istana ini Justin. Dan sekarang dia senang memikirkan bahwa kau akan tinggal di istana ini”. Justin menatap Noor dengan wajah pias. Ia terbayang ucapan kakeknya, Nicator, saat memberitaunya, ‘seluruh istana akan terbakar hangus, keturunan Maurya akan binasa tidak akan ada satu orangpun yang tersisa’.

Justin menatap Noor dengan wajah takut, “Istana? Tidak”, sambil menolehkan wajahnya ke arah lain sambil berfikir, “tidak, tidak, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Siyamak”. Noor memegang lengan Justin yang tiba-tiba gelisah, “Ada apa Justin?”. Justin hanya menjawab, “Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya!”. Noor heran, “Apa yang tidak akan kau biarkan? Apa yang akan terjadi Justin! Justin, kenapa kau ketakutan seperti ini, jawab aku, jawab aku Justin!”, sambil menarik lengan Justin agar mau menatap matanya.

Justin memberitau Noor, “Dengarkan aku, sebelum acara pernikahan ini selesai, kau harus pergi dari sini bersama dengan Siyamak, jauh dari sini, kau harus pergi dari istanamu juga”. Noor semakin bingung, “Aku tidak mengerti, meskipun kau tau Siyamak adalah putramu kau akan tetap menikah. Apa yang ada dipikiranmu itu?”. Justin memegang bahu Noor dengan wajah minta dimengerti, “Noor Sudahlah! Lakukan saja seperti yang aku katakan! Sebentar lagi kau akan tau semua jawaban dari pertanyaan ini!”. Noor menetap mata Justin dengan tatap berkaca. Justin juga menatap Noor dengan tatap menahan tangis.

Ashoka #108 episode 98 16

Sementara itu, di lorong istana, Akramak sedang mengingatkan dua orang prajurit, “Kita harus mengawasi setiap orang yang ada disini, dan bukan hanya itu, barang-barang apa saja yang dibawa ke istana ini, itu juga harus diperiksa”. Akramak mau menambahkan perintahnya saat terdengar suara, “Aku rasa itu saja tidak akan cukup!”.

Akramak menoleh, menatap Ashoka yang berdiri menatapnya dengan tatap cemas. Akramak kemudian memberi isyarat pada tiga prajurit yang tadi sedang dia beri perintah untuk meninggalkannya. Ashoka memastikan prajurit itu menjauh, kemudian melangkah bergegas mendekati Akramak, “Sejaka semalam aku berusaha menemui Anda”, dengan wajah cemas.

Akrama memegang pundak kiri Ashoka dengan tatap curiga, “Ada apa Ashoka”. Ashoka memberitau apa yang ingin dia sampaikan, “Aku sudah tau apa yang akan terjadi pada hari ini”. Akramak menatap Ashoka ingin tau, “Apa?”. Ashoka memperhatikan istana dengan matanya, “Ini bukan istana! tapi ini adalah tempat untuk membunuh seluruh keluarga kerajaan!”. Akramak menatap Ashoka dengan wajah sangat terkejut.

Ashoka memberitau lagi, “Ini, ini adalah rumah lak Acharya! Ini terbuat dari lak!”. Akramak yang terkejut, setengah tak percaya, “Rumah dari lak? Mestinya ada siasat sebesar ini dan tidak ada yang tau? Hal ini mana mungkin!”, sambil menatap istana yang megah.

Ashoka mengernyitkan wajah berpikir, mencari cara menjelaskan, matanya melihat pisau yang terselip dipinggang Akramak. Ia kemudian menyodorkan tangannya. Akramak mencabut pisau miliknya, menyerahkan ke tangan Ashoka. Ashoka melepaskan pisau dari sarungnya, kemudian menghujamkan pisau ke tiang terdekat, cat tiang itu mengelupas, terlihat bagian dalam tiang yang berwarna oranye kemerahan. Akramak memperhatikan dengan wajah terkejut. Ashoka menoleh ke arah gurunya itu. Akramak menarik nafas.

Ashoka #108 episode 98 17

Ashoka berkata, “Keluarga kerajaan dan semua orang-orang penting akan hadir dalam pesta ini. Kalau ini dibakar, coba pikirkan, coba pikirkan! Apa akibat yang akan terjadi! Aku harus memberitau hal ini pada Yang Mulia! Dia akan memerintahkan semua orang untuk keluar dari sini!”.

Akramak memegang pundak Ashoka lagi, “Tidak Ashoka”. Ashoka menyarungkan pisau ditangannya. Akramak menjelaskan, “Jika telah direncanakan siasat sebesar ini, agar kita memberitaukan, itu pasti sudah mengatur segala sesuatunya disini. Ashoka! Aku yakin, Acharya Chanakya mengetahui hal ini, karena itulah, dia diculik! Dia disembunyikan dari sini!”. Ashoka memikirkan kemungkinan yang diberitaukan Akramak.

Akramak memerintahkan pada muridnya itu, “Ashoka, sekarang juga kau cari Acharya Chanakya! Karena dialah yang akan memberitau siapa yang merencanakan siasat ini”. Ashoka merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, “Baiklah Acharya”. Akramak mengangguk. Ashoka menyerahkan pisau ke tangan Akramak, kemudian bergegas meninggalkan gurunya itu. Akramak menatap Ashoka yang menjauh dengan wajah berfikir.

Saat berbelok dengan tanpa curiga pada sekeliling, tangan Ashoka ada yang menarik, rupanya prajurit ibu suri Helena yang disuruh mengawasinya. Si prajurit memegang lengan Ashoka kuat, Ashoka berusaha melepaskan tangannya, tapi tak berhasil.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :