Ashoka #108 episode 98 05

Sushima memegang pundak Ahankara, menariknya supaya menatapnya, “Sekarang dengarkan aku baik-baik, ketika upacara pernikahan berakhir, begitu ada kesempatan maka kita akan pergi dari sana”. Ahankara terkejut, “Apa? Bagaimana caranya? Kakakku akan menikah dan aku akan meninggalkan dia dan pergi begitu saja?”. Sushima memberi alasan, “Kita tidak perlu hadir sepanjang pesta pernikahan itu bukan? Bila acara yang utama selesai,,”, sambil menatap Ahankara yang terlihat tak antusias.

Sushima melepaskan pegangannya dari pundak Ahankara, menatap ke arah lain dengan wajah sedih, “Ya sudah, biarkan saja”. Ahankara akhirnya setuju, “Baiklah, tapi bagaimana kau akan tau kalau saat itu telah tiba”. Sushima langsung tersenyum. Ahankara tertunduk sambil tersenyum, kemudian menatap Sushima dengan tatap cinta, mereka saling tersenyum penuh cinta.

Ashoka #108 episode 98 08

Di tengah acara pesta, Bindusara yang sedang di temani Calata, memberitau kisahnya, “Dalam serangan hebat itu aku jatuh pingsan, anggaplah Dharma memberikan aku kehidupan baru, dia mengobati aku, membiarkan aku tinggal di rumahnya, dia melayani aku tanpa mengharapkan sesuatu, jadi karena itulah aku jatuh cinta padanya”. Calata mendengarkan dengan wajah seakan ikut terbawa suasana hati Bindusara.

Dharma yang membawa kendi air yang seharusnya menjadi tugas Ashoka dari ibu suri Helena, tapi diambil alihnya karena curiga dengan rencana jahat Helena untuk Ashoka, melintas dibelakang Calata yang sedang merespon cerita Bindusara, “Setelah menikah dengan Dewi Dharma, Anda kembali kesini, lalu apa yang terjadi?”. Saat itulah, kendi yang dipegang Dharma dengan sebelah tangan hampir terjatuh ke arah Bindusara, refleks tangan Bindusara menyambut kendi yang masih ditahan tangan Dharma. Bindusara jadi menahan tangan Dharma yang memegang kendi, keduanya sama-sama tertegun. Dharma menutup wajah dengan pinggir selendangnya.

Calata langsung mengingatkan Dharma yang sedang menjadi pelayan itu, “Hati-hati!”. Dharma tanpa menoleh menjawab, “Baik”, kemudian melanjutkan langkahnya. Bindusara yang masih terkesiap, tak berkata apa-apa, ia hanya menatap Dharma yang melanjutkan membawa kendi.

Ashoka #108 episode 98 09

Bindusara masih terpana, saat Raajaajiraaj muncul dengan seorang pelayan yang membawa nampan berisi ladu, “Yang Mulia, silahkan mencicipi ini”, sambil mengambil sebuah ladu dan menyodorkan ke Bindusara yang masih terpana menatap ke arah Dharma yang menjauh. Calata mengikuti pandangan Bindusara. Raajaajiraaj menjelaskan, “Ini ladu istimewa dari Ujjayani, silahkan”. Bindusara yang wajahnya masih pias oleh rasa yang tak dimengerti, setelah menyentuh tangan Dharma yang menyamar sebagai pelayan, menerima ladu itu, “terima kasih”, tapi kemudian matanya kembali ke arah Dharma menjauh.

Rajaajiraaj menatap Calata, “Maha Amartya, Anda juga silahkan mencicipi”. Calata mengangguk. Raajaajiraaj mengambil sebuah ladu lagi, langsung menyuapkan ke mulut Calata sambil tertawa senang. Raajaajiraaj kemudian memperhatikan Bindusara yang terlihat menunjukkan wajah gelisah dan belum memakan ladu yang dia berikan. Raajaajiraaj berfikir. Calata sudah mengunyah ladu yang berisi ramuan yang bisa mengubah orientasi seseorang dalam menerjemahkan apa yang dilihatnya.

Di ruangan tempat Agnishikha akan melakukan ritual mandi, semua sudah berkumpul. Helena tak henti-hentinya ternyum. Charumitra juga tersenyum karena tau Calata sedang menjalankan tugas mencari Dharma. Permaisuri Subrasi juga tersenyum senang. Ahankara yang sudah diruangan itu juga ikut tersenyum menatap Agnishikha yang terlihat sangat tenang.

Ashoka #108 episode 98 10

Dharma masuk ruangan dengan membawa kendi air di tangannya, menuangkan isi kendi ke dalam bak mandi berbentuk lingkaran dengan tangan gemetar dan wajah pucat sambil terbayang peristiwa yang baru saja dialaminya, bersentuhan tangan tanpa sengaja dengan Bindusara gara-gara kendi yang mau jatuh. Tangan Dharma semakin gemetaran dan wajahnya semakin pucat dengan tatap terpana.

Permaisuri Subrasi yang kebetulan melihat dari tempatnya berdiri, menegur pelayannya itu, “Sevika, ada apa?”. Dharma menoleh dengan wajah tersenyum dengan pipi bersemburat merah menahan malu, sambil terus melanjutkan menuangkan air dikendi dengan menahan agar tangannya tak gemetar lagi. Subrasi hanya menelan ludah sambil mengernyitkan wajah karena tidak tau apa yang sebenarnya disembunyikan oleh pelayannya itu. Air sudah tertuang semua, Dharma menyerahkan kendi kosong kepelayan lain.

Helena tersenyum mengangguk pada Agnishikha yang sudah masuk kedalam bak mandi. Subrasi tersenyum melihat kebahagiaan diwajah pengantin putri itu. Dharma memperhatikan ritual dengan wajah tegang. Helena menambahkan wangi-wangian ke dalam air mandi calon mantunya itu.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :