Ashoka serial  #81 episode 71 05

Wajah Siyamak di belakang punggung Ashoka semakin terlihat sedih, kali ini yang terbayang ucapan kakeknya, Khorasan, ‘Sejak bertahun-tahun aku mempunyai impian untuk melihatmu duduk di singgasana Magadh, hanya saja ingat, kalau tergesa-gesa jangan lakukan kesalahan, hingga kesempatan ini, hilang dari tanganmu’.

Siyamak melirik Ashoka lagi, membathin, ‘Aku jadi bingung, disatu pihak mereka punya harapan besar dan dipihak lain, sahabatku yang memikul beban berat. Tidak, itu tidak benar, karena aku, Ashoka akan kehilangan kesempatan untuk menang, ini tidak adil untuknya’. Langkah Ashoka mulai sempoyongan.

Siyamak pura-pura kesakitan, “Aww”. Ashoka berhenti, “Kenapa?”. Siyamak minta diturunkan sambil menunjukkan suara kesakitan, “Auw, aaa,”. Ashoka menurunkan Siyamak dari punggungnya, mendudukkan dengan menyandarkan di bawah pohon besar dengan wajah cemas, “Ada apa, sakit dimana”, sambil memijat dan menggosok telapak kaki Siyamak.

Ashoka serial  #81 episode 71 14

Siyamak memberi alasan, “Kakiku kesemutan”. Ashoka dengan sigap membantu menghilangkan kesemutan yang dirasa Siyamak, “Dimana, disiniatau disini”, sambil menggosok telapak Siyamak tanpa peduli dengan kelelahannya sendiri.

Siyamak memperhatikan Ashoka yang sibuk menggosok kakinya, dia pun mencari alasan lain, “Aku, aku haus”. Ashoka merespon dengan cepat, “Tunggu, aku akan ambilkan air”, sambil berdiri, sambil bergegas mencari alat yang bisa dia pergunakan untuk meneteskan air yang tersimpan di kulit pohon.

Baru beberapa langkah, Ashoka teringat sesuatu, ia terhenti, tertegun, menoleh ke belakang, ke tempat Siyamak ia tinggalkan duduk di bawah pohon. Dugaannya benar, Siyamak hanya mencari alasan agar ia ditinggal sendirian, Siyamak sudah memegang alat tiup. Ashoka terpana, Siyamak dengan wajah sedih menaroh terompet di mulutnya, sebagai tanda ia keluar dari pertandingan.

Ashoka tersadar dari keterpanaannya, “Pangeran Siyamak! Jangan!”, bersamaan dengan terdengarnya suara tiupan terompet Siyamak.

Para Acharya yang berdiri di atas bukit mendengar terompet ditiup, mereka terkejut. Sushima yang sudah jauh di depan, sedang makan buah di bawah pohon bersama dua teman kelompoknya, juga mendengar suara terompet ditiup. Sushima tertegun.

Akramak, diikuti dua guru lain segera bergegas menuju ke arah sumber terompet.

Di tempat Sushima dan temannya mendengar suara terompet, Indrajit berkata dengan wajah senang pada Sushima, “Dengar itu, itu pasti pangeran Siyamak. Selamat pangeran Sushima, dia sudah keluar dari pertandingan ini”. Sushima dengan tersenyum menambahkan, “Dan juga keluar dari lomba yang akan menjadikannya pewaris tahta”. Indrajit mempertegas, “Sekarang, tidak ada yang bisa mencegah kau duduk di tahta”. Sushima tersenyum senang.

Ashoka serial  #81 episode 71 16

Di bawah pohon tempat Siyamak menyandarkan tubuhnya, Ashoka jongkok di hadapan Siyamak, menatap temannya itu dengan tatapan sedih, “Pangeran Siyamak, kenapa kau melakukan ini? Masih ada waktu sebelum matahari terbenam. Apa kau tidak percaya padaku?”, sambil memegang sebelah pundak Siyamak.

Siyamak juga dengan wajah sedih menjelaskan tindakan yang diambilnya, “Karena percaya padamu, aku menerima kekalahanku Ashoka. Kakakku, ia tidak pernah melakukan apa yang kau lakukan hari ini untukku, kau sudah mengajariku arti persahabatan, mengajarkan perikemanusiaan, dan mengajarkan arti pengorbanan. Bagaimana aku bisa menjadi egois, kau juga tau, meskipun aku maju terus, aku tidak akan sanggup untuk bisa melawan kak Sushima”.

Ashoka tetap optimis, “Kau yang berpikir begitu, tapi aku,,”. Siyamak memotong ucapan Ashoka, “Aku ingin kau yang maju dan mengalahkan kak Sushima. Aku ingin kau memastikan hal ini, bahwa pedang terhormat Yang Mulia Chandragupta Maurya tidak pantas dimiliki oleh orang yang egois dan kejam seperti dia. Kemenanganmu adalah kemenanganku. Kehormatan ibu pertiwi sekarang ada dipundakmu Ashoka. Berjanjilah, berjanjilah padaku kau akan mengalahkannya. Katakan Ashoka, pastikan hal ini”.

Ashoka serial  #81 episode 71 17

Ashoka memeluk tubuh Siyamak yang terlihat semakin ringkih. Ashoka berkata dengan nada tegas di pundak Siyamak, “Aku akan mengalahkannya, aku akan mengalahkannya”. Siyamak menangis. Ashoka menahan sedih sambil terus memeluk Siyamak.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :