Ashoka meneteskan air mata, “Selama ini aku menepati janjiku, tetapi hari ini, ibuku meminta sebuah janji dariku, yang tidak akan bisa ditepati oleh putra manapun di dunia ini. Ibuku ingin, meskipun aku tau dia masih hidup, aku, harus menganggap dia sudah mati”. Chanakya mendengarkan dengan tatap haru, begitu juga dengan Radhagupt.

Ashoka #73 episode 63 13

Ashoka menenangkan diri, “Hari ini aku berjanji padamu Acharya, karena dirimu penderitaan yang aku dan ibuku alami, akan aku ma’afkan semuanya, asalkan kau bisa menghilangkan ketidakberdayaan yang menyebabkan ibuku menyuruhku untuk menganggap dirinya sudah mati. Sepanjang hidup aku akan berhutang budi padamu, aku akan berhutang padamu. Apakan kau mau melakukan hal itu, apakah kau mau membantuku?”, sambil memberi sikap bermohon dengan tangan terkatup rapat. Radhagupt memperhatikan dengan sedih, ikut menunggu keputusan Chanakya.

Chanakya yang dari awal terus menatap Ashoka, menjawab permohonan Ashoka dengan tegas, “Tidak!, *Ashoka dan Radhagupt terkejut*, Aku tidak bisa membantumu Ashoka”. Perlahan, wajah Ashoka yang sedih dan terkejut menatap Chanakya berubah mengeras, “Jika orang yang paling kuat di Magadh, Acharya Chanakya yang berilmu tinggi saat ini tidak bisa membantu diriku! Maka aku juga akan bersumpah! Aku akan menjadi orang yang sangat kuat! Sehingga aku tidak membutuhkan bantuan siapapun juga! Aku akan menjadi lebih kuat dari dirimu, aku akan menjadi begitu kuat! Sehingga tidak ada ibu di Magadh yang menjadi tidak berdaya seperti itu! Tidak akan ada anak satupun yang terpaksa menganggap ibunya sudah mati! Dan, aku tidak akan membiarkan orang diperlakukan tidak adil”, sambil menahan kecewa bercampur marah pada Chanakya, kemudian melangkah meninggalkan kuil dan Cahanakya.

Ashoka #73 episode 63 16

Chanakya menatap kepergian Ashoka dengan tatapan menahan tangis, langkahnya agak goyah saat memperbaiki posisi berdiri untuk memperhatikan punggung Ashoka yang penuh kemarahan, semakin menjauh darinya. Chanakya bergumam, “Aku juga menginginkan hal itu Ashoka”, kemudian terbatuk-batuk dengan wajah memerah kuyu. Radhagupt bergegas mendekat dengan cemas, “Acharya”. Chanakya masih batuk-batuk sambil memegang pinggangnya.

Radhagupt memperhatikan wajah Chanakya yang cemas, “Acharya, kau selalu mengambil keputusan yang keras demi Magadh ini dan masa depannya. Tapi untuk pertama kalinya aku melihat kau lemah dan terpengaruh karena seseorang. Apapun yang terjadi tadi, itu akan membuat Ashoka lebih membencimu, apakah itu baik Acharya?”.

Chanakya menjelaskan, “Masalahnya bukan baik atau tidak baik Radhagupt. Kalau dengan membenciku Ashoka bisa menjadi lebih kuat, maka untuk mengantar dia pada tujuannya aku rela mengorbankan apa saja”, kemudian batuk-batuk lagi dengan wajah memerah yang mulai terlihat letih, “Karena aku tau, nasibnya, sudah ditentukan untuk Magadh! Untuk India dan untuk kemanusiaan. Untuk dunia”, Chanakya batuk-batuk lagi.

Ashoka #73 episode 63 19

Ashoka yang kecewa dan tak tau siapa yang bisa membantunya, terus berjalan dengan langkah marah, kemudian di dekat sebatang pohon tua, berhenti, duduk menangis, sambil terbayang ucapan Dharma sebelumnya, ‘putraku, jangan sampai ada yang tau aku masih hidup, berjanjilah padaku!’. Ashoka semakin menangis, “Kenapa bu, kenapa?!”.

Yang Mulia Bindusara dan prajurit pengawalnya melewati tempat Ashoka duduk di bawah pohon. Bindusara mengisyratkan dengan mengangkat tangannya agar prajurit di belakangnya berhenti, kemudian ia sendiri menghentikan kudanya. Menatap Ashoka yang membelakangi arahnya, tak terpengaruh oleh ringkik suara kuda. Yang Mulia Bindusara turun dari kudanya, melangkah mendekati Ashoka duduk sedang menahan tangis.

Bindusara menatap Ashoka yang tetap aja tak menyadari kedatangannya. Bindusara menegur, “Ashoka”. Ashoka mengangkat kepala, menunjukkan wajah sedih yang tak bisa ia sembunyikan. Bindusara bertanya, “Sedang apa. Kau baik-baik saja nak”. Ashoka menarik nafas dalam, tanpa melihat Bindusara, tetap duduk dan menundukkan pandangan, menjawab, “Aku baik-baik saja Yang Mulia”.

Ashoka #73 episode 63 20

Bindusara tersenyum melihat respon Ashoka, antara ucapan dan kenyataan yang terlihat tidak sama, “Seorang kawan bisa merasakan, kapan kawannya sedang menyembunyikan kesedihan yang sedang dirasakannya. Apa masalahnya”. Ashoka bangkit dari duduknya, menatap Bindusara, “Apapun masalahnya Yang Mulia, tapi aku tau masalah ini tidak bisa diatasi”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :