Ashoka #73 episode 63 08

Justin melangkah menuju lingkaran bunga tempat ditarohnya batu pertama. Matanya menatap ke depan. Noor semakin ingin tangannya dilepaskan oleh Khorasan melihat Justin yang seperti tak bahagia. Noor melihat ke arah kaki, saat itu, kaki Justin keserempet, ia terjatuh, jidatnya membentur batu pertama. Spontan Noor berteriak, “Justin!”, sambil menyentakkan tangannya dengan kuat dari pegangan Khorasan yang juga berteriak ingin mencegah putrinya itu bersikap teledor, “Noor”.

Justin mengangkat kepalanya, jidatnya berdarah dan tetesannya mengenai batu pertama untuk istananya itu. Langkah Noor terhenti di luar lingakaran bunga saat melihat Justin mengangkat kepala, sambil memegang jidat langsung menatapnya. Agnishikha, Nicator, Helena, Raajaajiraaj, Bindusara, Chanakya, menatap dengan tatap heran.

Noor berpikir, Justin menatap Noor sambil menunggu reaksi dari orang-orang. Calata, Charumitra, Subrasi, Sushima dan Ahankara juga memperhatikan, menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Khorasan menahan nafas. Noor menenangkan dirinya dengan menarik nafas. Helena, Raajaajiraaj, cemas. Dengan terbata, Noor bicara, menjelaskan tindakan spontanya barusan, “Ma, maksudku, apa kau baik-baik saja pangeran Justin”. Justin berdiri. Noor tertunduk menarik nafas. Agnishikha menatap dengan tatap tak suka.

Chanakya bicara, “Untuk pembinasaan, tidak perlu mengalirkan sungai darah, cukup teteskan satu tetes darah pada peresmian batu pertama”, sambil menatap Calata yang menundukkan pandangannya. Helena langsung merespon, “Tapi di Yunani, meneteskan darah dianggap baik, bukankah begitu ayah”. Nicator yang tertegun memberikan respon, “Ya, ya, kau berkata benar”. Helena tersenyum lega. Bindusara ikut tersenyum. Calata berpikir menatap Chanakya yang selalu curiga.

Ashoka #73 episode 63 09

Justin melanjutkan ritual peresmian batu pertama ke tahap berikutnya. Menerima sesaji persembahan dari pendeta, bersama Nicator, meletakkannya di atas batu. Noor menarik nafas menenangkan dirinya. Agnishikha mengawasi dengan tatapannya. Charumitra menunjukkan wajah tersenyum, Subrasi juga serius memperhatikan ritual yang dilakukan Justin bersama Nicator dan pendeta. Justin sambil meletakkan daun sesaji diatas batu, matanya melirik ke arah Noor, yang balas menatapnya juga.

Sushima menundukkan pandangan, tidak ada yang istimewa lagi untuk diperhatikan. Ahankara tersenyum. Agnishikha tetap mengawasi dengan tatap serius. Justin memberikan sikap hormat, ritual peletakan batu pertama selesai, di tutup dengan pelemparan bunga ke arah batu oleh Raajaajiraaj, Helena dan Agnishikha yang semuanya sudah tersenyum lebar. Acara berjalan sukses. Calata ikut melempar bunga dengan senyum lebar, begitu juga yang lainnya.

Chanakya yang tak ikut melemparkan bunga, di dekati Radhagupt, memberi tau sesuatu pada Chanakya yang mendengarkan dengan serius.

Tak berapa lama, di bawah pohon, jauh dari pandangan mata orang-orang, dipinggir danau, Dharma sudah bicara pada Chanakya, “Aku sudah meminta pada Ashoka berjanji untuk tidak menceritakan hal ini pada orang lain. Tapi aku sangat cemas, aku takut karena emosi dia melakukan sesuatu, aku takut kabar tentang aku masih hidup diberitaukan pada Yang Mulia”.

Chanakya dengan tetap berdiri dengan sikap resmi, menenangkan Dharma, “Kau jangan khawatir Dewi. Aku akan menjelaskan pada Ashoka”. Dharma kemudian melangkah meninggalkan Chanakya. Chanakya membathin, “Ashoka harus ditenangkan”.

Ashoka #73 episode 63 12

Di kuil, Ashoka membunyikan lonceng kuil, memberi sikap salam pada patung Dewa di depannya. Kemudian membalikkan badan mau beranjak meninggalkan kuil. Langkahnya terhenti saat melihat Chanakya yang datang dan berhenti juga menatapnya. Mereka sama-sama melangkah mendekat. Chanakya memberi sikap salam ke arah patung Dewa. Kemudian menatap Ashoka.

Ashoka mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, “Aku memang ingin bertemu denganmu Acharya”. Chanakya menjawab, “Aku sudah tau semua dari ibumu Ashoka”. Ashoka tertunduk sesaat, menurunkan tangannya, memilih kata-kata yang tepat, “Seluruh Magadh tau bahwa kau punya pengaruh yang besar, kau punya ilmu yang tinggi. Meski masalah serumit apapun, kau bisa menyelesaikan dengan akal pikiranmu. Di seluruh Magadh tidak ada yang punya kedudukan besar sepertimu, karena itulah aku datang padamu, dengan membawa sebuah masalah. Apakah kau mau membantuku”, sambil mengangkat tangan memohon. Radhagupt memperhatikan dari tempatnya berdiri.

Chanakya mengangguk tipis sambil menatap Ashoka. Ashoka melanjutkan ucapannya, “Bukankah aku dan ibuku tidak berdaya untuk datang ke Pathaliputra, kami harus saling terpisah, kau berjanji padaku dan aku berjanji padanya bahwa aku tidak akan melanggar semua janji-janji itu”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :