Tanpa kentara, punggung Ashoka di dorong Pangeran Sushima, pijakan kaki Ashoka bergeser, tubuhnya oleng, Ashoka terkejut, tubuhnya jatuh ke bibir jurang. Ashoka berteriak, “Ibuuuuu!!!!”.

Ashoka episode #48 18

Di bibir ngarai, Sushima tersenyum menatap ke bawah, rencananya berhasil. Tapi, tak lama, terdengar suara Ashoka, “Pangeran Sushima!”. Sushima masih berdiri bengong, dikira itu hanya suara ilusi. Terdengar lagi suara Ashoka, “Pangeran Sushima, tolonglah aku”. Sushima melongok ke dinding tebing dibawahnya, Ashoka menggelantung disitu dengan berpegangan pada batu. Sushima pura-pura prihatin, “Ashoka jangan khawatir, aku akan segera menolongmu. Pegangan yang kuat Ashoka! Tunggu, aku akan segera mencari bantuan”.

Ashoka bertahan dengan memegang batu. Sushima beranjak dari situ. Ashoka melirik kejurang dibawahnya. Ashoka jadi tak mau menunggu, ia mencoba menarik berat tubuhnya naik, tak bisa.

Ashoka episode #48 20

Di istana, di lorong, Justin menyerahkan gulungan pada prajurit di depannya, “Ini untuk Raja Ujjayani, berikan secepatnya”. Charumitra yang baru keluar dari ruuangannya, melihat itu. Prajurit yang disuruh Justin mengangguk, kemudian pergi. Justin juga mau beranjak dari situ, saat Charumitra bersuara, “Surat menyurat dengan musuh”, sambil melangkah mendekat. Justin jadi berdiri menunggu.

Charumitra yang sudah disamping Justin menambah komentarnya, “Kau aneh sekali pangeran Justin”. Justin menatap Charumitra dingin, “Raja Ujjayani itu bukanlah musuh Magadh”. Charumitra mengingatkan, “Tapi kakaknya, adalah musuh kita! Dia telah melakukan serangan yang mematikan pada Yang Mulia Bindusara, apa kau sudah lupa”.

Justin yang wajahnya menunjukkan sedang banyak pikiran menjawab, “Tidak, aku sama sekali tidak lupa. Aku juga tidak lupa bahwa dia harus membayar semua ini dengan mengorbankan nyawanya. Bahkan kau sudah lupa, bahwa adiknya Saktiraaj, yaitu Rajaajiraaj dinobatkan sebagai penguasa oleh Yang Mulia Bindusara sendiri. Bagaimana dia dianggap sebagai musuh kita, dia justru tergantung pada kita”.

Charumitra tertawa, “Jawabanmu begitu jelas, seolah-olah, kau sudah mengahapalkan semuanya kalau tertangkap basah, inilah jawaban yang kau berikan”. Justin membela diri, “Apapun yang kulakukan, ini demi kebaikan Magadh dan Yang Mulia”. Charumitra merespon, “Kau pikir aku akan percaya pada apa yang kau ucapkan sekarang! Orang yang tidak pernah memikirkan Magadh dan Yang Mulia, mengatakan hal seperti ini”.

Justin menatap Charumitra, “Permaisuri Charumitra, apa yang sudah kau lakukan, apakah itu hanya demi kebaikan Magadh dan Yang Mulia? *Charumitra melengos*, Satu pertanyaanku saja, telah membuat kau kalah Charumitra. Lalu bagaimana kau memainkan permainan singgasana”, sambil menunjukkan wajah menahan kesal, kemudian melangkah pergi. Charumitra bergumam, “Yang kalah adalah orang yang melarika diri dari medan perang Pangeran Justin”.

Ashoka episode #48 22

Di bibir jurang, Ashoka mencoba menarik tubuhnya, dengaan menginjak batu dibawah kakinya yang bisa tersentuh. Di atas, Sushima melangkah agak menjauh, yang katanya mau memanggil bantuan, malah duduk disebuah batu, mengambil buah yang tergeletak disitu, mengunyahnya sambil menatap ke jurang dimana Ashoka sedang berusaha menyematkan diri agar tak jatuh.

Ashoka menyemangati dirinya, “Sementara Pangeran Sushima memanggil bantuan, maka aku akan berusaha untuk naik keatas”, mencoba memindahkan tangannya, pegangan satu tangannya malah terlepas. Ashoka kembali menggapai batu di depannya, memegangnya, kemudian memutuskan, “Sepertinya, aku harus bergantung seperti ini, sampai, sampai bantuan datang”. Dibagian puncak teratas, Sushima masih saja duduk diatas batu sambil menikmati buah.

Ashoka episode #48 23

Terdengar derap kuda mendekat, Sushima mengangkat kepalanya. Ashoka juga mendengar derap kaki kuda itu, “Rupanya, pangeran Sushima sudah memanggil seseorang untuk membantuku”. Ashoka pun berteriak memberitau kalau dia masih menunggu bantuan, “Pangeran Sushima! Pangeran Sushima! Cepat kemari!”. Sushima berdiri dari duduknya begitu melihat siapa yang datang mendekat dengan kudanya, ayahnya sendiri, Raja Bindusara yang terlihat memacu kudanya dengan cepat dan wajah cemas.

Sushima merundukkan badannya di balik batu yang tadi didudukinya. Ashoka tetap berteriak, “Pangeran Sushima!”. Sushima mengintip dari balik batu ke arah ayahnya yang semakin dekat. Ashoka bersuara, yang gemanya terpantul ke sekitar daerah situ, “Pangeran Sushima, aku tidak bisa berpegangan lagi! Cepat kemari!”. Raja Bindusara menghentikan kudanya, terdengar suara Ashoka, “Pangeran Sushima!”. Raja Bindusara melompat turun dari kuda. Ashoka berusaha menahan pegangan tangannya agar tidak terlepas.

Raja Bindusara berlari di dataran dimana dia mendengar suara Ashoka, melihat ke sekeliling, tidak ada terlihat siapa-siapa, “Ashoka! Kau dimana!”. Ashoka memperbaiki pegangan tangannya, “Aku disini! Aku disini!”. Raja Bindusara berlari ke bibir jurang tempat datangnya suara Ashoka dengan wajah sangat cemas.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :