Shakuntala episode 99 08

Di istana, sedang terjadi prosesi penobatan Dushyant. Pemimpin ritual memasangkan topi kebesaran ke kepala Dushyant. Dushyant berdiri dari duduknya, melakukan sikap do’a di depan patung Dewa. Raja Puroo dan Permaisuri tersenyum melihatnya.

Selesai Dushyant berdoa dia melihat ke arah ayahnya. Raja memberi pengumuman pada yang hadir, “Mulai hari ini, aku akan menobatkan Pangeran Dushyant sebagai Raja Hastinapura. Mulai sekarang juga, setiap keputusan mengenai Hastinapura akan dialihkan”. Dushyant melangkah memeluk ayahnya.

Komando sorak berteriak, “Hidup Pangeran Dushyant! Hidup!, Hidup Pangeran Dushyant! Hidup!, Hidup Pangeran Dushyant! Hidup!”, sambil menaburkan bunga ke Dushyant yang sedang berpelukan dengan ayahnya. Kemudian mereka berdiri bersisian, Permaisuri, Raja, Dushyant, menatap semua yang hadir dengan wajah tersenyum.

Narasi dari pengantar cerita, “Waktu tidak pernah menunggu seseorang, waktu selalu melaju dengan kecepatannya. Sudah delapan tahun berlalu ketika Bharata dilahirkan, kini Bharata yang cilik sudah besar. Sang waktu pun telah membentuknya dalam keadaan apa, hal itu masih harus dilihat”.

Shakuntala episode 99 09

Di dalam hutan, di pondok tempat tinggalnya, Shakuntala keluar pondok sambil memanggil-manggil anaknya, “Bharata, Bharata. Pergi kemana dia, Bharata, Bharata”. Karan yang muncul habis mencari kayu bakar bicara, “Jangan khawatir Shakuntala, dia pasti di sekitar sini. Kau selalu khawatir tanpa alasan”.

Shakuntala malah protes, “Kau juga yang salah Karan, aku sudah menyuruh kau untuk mengawasi dia, tapi, lihat saja, dia menghilang lagi, aku khawatir sekali”. Karan mengingatkan, “Hei, Shakuntala, sekarang Bharata sudah berusia delapan tahun, dia takkan hilang kemana-mana, pasti dia sedang bermain di sekitar sini”.

Shakuntala mengeluh, “Bharata senang sekali mengganggu aku. Dan kau juga sama saja, kau selalu saja mendukung kenakalannya”. Karan menahan senyum melihat Shakuntala ngomel. Shakuntala melangkah mencari anaknya, “Bharata! Bharata!”.

Shakuntala episode 99 10

Sementara di tebing bukit yang agak curam, seorang anak sedang dibantu naik oleh temannya dengan menarik pergelangan tangannya. Si anak berhasil naik, kemudian menyerahkan apa yang baru saja diambil ke temannya yang membantu naik. Mereka kemudian saling tos. Shakuntala muncul di belakang anak yang membantu temannya tadi, “Bharata”. Si anak menoleh sambil tersenyum, ternganga melihat kemunculan Shakuntala.

Shakuntala melangkah mendekat dengan wajah serius, “Apa yang kau lakukan”. Si anak yang membantu temannya tadi ternyata Bharata, ia menjawab pertanyaan Shakuntala sambil menyembunyikan tangan ke belakang punggung, “Tidak ada bu, kami cuma bermain”. Teman Bharata beranjak dari situ. Karan muncul. Ia tersenyum pada Bharata, yang melirik ke arahnya. Karan memberi isyarat lewat alisnya.

Bharata tersenyum, melihat Shakuntala yang menunjukkan wajah cemberut, meraih tangan Shakuntala, “Ibu ayo, aku mau memperlihatkan sebuah tanaman padamu. Paman Karan kau juga ikut ya”. Bharata menarik tangan Shakuntala. Shakuntala bingung, “Bharata, mau kemana”.

Shakuntala episode 99 11

Bharata jongkok di depan sebuah pokok bunga, “Ibu, lihatlah, Paman Karan sudah membawakan bunga ini dari ashram”. Shakuntala yang tertegun, melirik Karan yang berdiri di belakangnya. Shakuntala tersenyum, ikut jongkok di samping anaknya. Bharata berkata, “Indah sekali kan”. Shakuntala tersenyum, “Indah sekali”. Karan berdiri dengan tatap haru melihat senyum Shakuntala. Shakuntala mengusap dagu Bharata, “Sama seperti dirimu”.

Bharata bicara lagi, “Iya Bu, kata Paman, bunga ini adalah milik ibu. dan bunga ini ada juga di ashram. Aku menanam bunga ini di sini untuk ibu. Aku akan siram setiap hari, dan aku tidak akan membiarkannya layu. Ibu juga harus selalu bahagia seperti bunga ini. Ibu mau bahagia kan”. Shakuntala yang terharu mendengar semua ucapan Bhrata mengangguk,”Iya”. Shakuntala memeluk Bharata, “Ibu akan bahagia”. Karan yang menatap ibu dan anak itu sampai meneteskan air mata haru melihatnya, ia menghapus air matanya dalam diam. Shakuntala terisak memeluk Bharata.

Shakuntala episode 99 13

Di istana, Dushyant sedang melukis di kamarnya. Dia sedang melukis Shakuntala dengan serius. Saat mau membuat sesuatu di jari gadis yang di lukisnya, wajah Dushyant mengernyit, kuasnya langsung terhenti. Kemudian menyilang lukisan tersebut dengan kesal. Melepas kertas lukisan itu dari papan lukisnya, melempar dengan kesal.

Permaisuri muncul, berdiri dekat lukisan gadis hasil karya Dushyant yang dibuangnya ke lantai. Permaisuri bertanya, “Ada apa Nak, kau kelihatan gelisah”. Dushyant menjawab, “Entahlah bu, sejak bertahun-tahu aku berusaha, untuk membuat lukisan, tapi setiap kali ada saja yang salah. Setiap kali aku membuat lukisan, rasanya lukisan itu tidak lengkap. Entah kenapa aku merasakan hal itu”.

Permaisuri yang sudah memegang lukisan Shakuntala di tangannya hanya tertunduk mendengar kegelisahan Dushyant. Ia bertanya, “Kau mengenal gadis ini?”. Dushyant yang sudah melihat papan lukisnya lagi menjawab, “Aku tidak tau. Tapi entah kenapa aku tidak bisa melupakan wajahnya. Berkali-kali wajahnya menarik diriku ke arahnya. Dalam benakku satu-satunya wajah yang selalu terbayang, entah kenapa. Apa hubunganku dengan gadis ini sebenarnya”. Dada Dushyant terlihat sesak di depan papan lukisnya.

Permaisuri dengan wajah sedih membathin, ‘Seandainya aku bisa memberitau siapa gadis ini. Tapi aku terpaksa diam karena sumpah ayahmu. Bagaimana aku memberitau padamu bahwa Shakuntala bukanlah orang lain, tapi dia istrimu sendiri”.

KLIKANGKA”  Halaman, dibawah  artikelTERKAITuntuk melihat foto dan kelanjutan kisahnya :