Shakuntala episode 68 #67 11

Ratu kaget, ia protes, “Apa yang kau katakan Yang Mulia. Tidak akan terjadi apa-apa pada Pangeran Dushyant. Ia pasti ada di istana ini”. Raja menerima kemungkinan itu, “Ya, mungkin. Mungkin kau benar, percuma saja aku memikirkan hal-hal buruk di dalam hatiku. Aku sendirilah yang akan mencarinya”. Ratu tersenyum, menganggukkan kepalanya. Raja melangkah keluar ruangan.

Wajah Ratu cemas kembali. Gauri berdiri ke hadapannya, “Ibu, ibu jangan cemas, kakak akan ditemukan. Jika ibu putus asa, bagaimana dengan kami semua”. Kalki ikut nimbrung, “Yang dikatakan Gauri benar Ibu Ratu. Kau Permaisuri Hastinapura, jika kau putus asa, bagaimana dengan kami semua”.

Ratu menjawab, “Mungkin kalian berdua benar. Tidak ada gunanya duduk berpangku tangan. Ayo, kita juga mencarinya”. Kalki kaget mendengar respon Ratu tidak seperti yang diharapkannya, ia pun ngelesh, “Aa, kalian pergi saja dulu, nanti aku akan menyusul”. Ratu dan Gauri melangkah meninggalkan Kalki.

Shakuntala episode 68 #67 12

Di ruangan Mritunjay. Ia sedang menjamu Rishi Satanand. Mritunjay sambil menerawang berkata, “Akulah orang yang paling menantikan sayembara ini. Bila sayembara ini selesai, Shakuntala pasti akan menjadi milikku. Tidak ada yang bisa menghalangi aku, tidak Shakuntala”. Rishi Satanand menyatakan dukunganya, “Aku juga mengharapkan hal itu. Untuk hari seperti inilah, aku berdoa kepada Dewa”. Rishi Satanand meminum minumannya.

Mritunjay langsung merespon, “Doa anda itu, pasti akan terkabul Rishi, bahkan, secepatnya”. Mereka sama-sama meminum minumannya. Kalki masuk sambil bertepuk tangan, “Hebat sekali Kak. Di seluruh istana ada keributan, dan kau,, enak-enakan duduk disini, dan menikmati minuman”.

Mritunjay tetap dengan gaya santai berkata, “hentikan teka teki itu, katakan dengan jelas apa yang terjadi”. Kalki menoleh ke Rishi Satanand, memberi salam. Kalki kemudian melanjutkan kesal ke Mritunjay, “Seluruh dunia tau, tapi kau tidak tau, karena hanya kau saja yang menutup mata dan telinga kak. Tidak ada gunanya bermimpi terus. Untuk mewujudkannya, kita harus mengawasi sekeliling kita. Satu saja kesalahan, bisa merusak seluruh rencana kita. Tapi apa bedanya bagimu”.

Shakuntala episode 68 #67 13

Rishi Satanand ikut bingung mendengar ucapan Kalki yang berputar kemana-mana. Mritunjay tetap santai, “Apa yang terjadi, hingga kau marah-marah seperti itu”. Kalki makin gondok, “Apa yang terjadi?! Mau tunggu kejadia apa lagi kak. Kau tau, Pangeran Dushyant dan Shakuntala telah menghilang dari istana”. Rishi Satanand dan Mritunjay serempak berdiri dari duduk mereka.

Rishi melangkah ke hadapan Kalki, “Apa yang kau katakan putri”. Kalki menjawab, “Aku mengatakan yang sebenarnya Rishi. Itulah yang terjadi”. Wajah Rishi Satanand pucat, bingung dan juga cemas. Mritunjay melontarkan pertanyaan bodoh, “Apa kau tau, kemana mereka pergi”.

Kalki sudah puas memarahi kakaknya, berganti cemas, “Aku merasa takut, jangan-jangan mereka melarikan diri”. Rishi Satanand ga nyambung, “Apa yang kau katakan putri. Kenapa Shakuntala akan melarikan diri dengan Pangeran Dushyant”. Kalki nyengir, sadar kekeliruannya, “He,,e, Rishi,,”.

Mritunjay langsung memotong ucapan Kalki, melihat ke Rishi “Ceritanya panjang sekali, dan ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita. Rishi, kita harus mencari mereka, bagaimanapun caranya. Aku tidak mau Shakuntala lolos dari tanagnku”. Wajah Rishi Satanand berkerut, “Aku tidak bisa percaya, bagaimana Shakuntala bisa keluar istana tanpa memberitau aku”. Mritunjay sekarang panik, membayangkan Shakuntala bersama Dushyant, ia langsung melangkah keluar ruangan. Kalki mengajak Rishi, “Ayo Rishi, kita juga pergi dari sini”. Mereka keluar ruungan.

Shakuntala episode 68 #67 14

Di gudang, Shakuntala menangis melihat Dushyant, “Hentikan!”. Shakuntala memegang tangan Dushyant yang masih memukulkan pisau ke pintu, “Sudah cukup, sudah cukup”. Dushyant mengibaskan tangannya yang dipegang Shakuntala dengan keras. Pisau terlepas dari tangannya. Shakuntala terjajar beberapa langkah ke belakang.

Dushyant yang masih emosi malah memukul pintu dengan kepalan tangannya. Shakuntala kembali mendekat dan memegang tangan Dushyant, “Apa yang kau lakukan, tanganmu berdarah. Cukup, hentikan!”. Dushyant kembali mengibaskan pegangan Shakuntala dengan keras, hingga Shakuntala kembali terjajar beberapa langkah ke belakang.

Dushyant yang nafasnya masih tersengal saking menahan emosinya, menatap Shakuntala yang meneteskan air mata. Ia berucap, “Kalau berdarah, biarkan saja berdarah. Ini adalah darahku! Apa pengaruhnya bagimu! Aku hidup atau mati, tidak ada bedanya bagimu. Sebenarnya siapa aku bagi dirimu”. Shakuntala menatap Dushyant dengan tatap cemas.

Dushyant menarik nafas dalam, ia tak tega melihat kecemasan di wajah Shakuntala, Dushyant mencoba tenang, “Apapun yang terjadi waktu itu, itu telah salah paham. Apa yang kau pikirkan, bukan seperti itu. Tapi kau tidak mau mendengar, dan kau juga tidak mau mengerti. Kau tidak memberi kesempatan padaku untuk menjelaskannya, kau langsung pergi dari sana. Kau sama sekali tidak berpikir bagaimana perasaanku. Lalu hari ini aku hidup atau mati, apa bedanya bagimu”. Shakuntala menatap Dushyant dengan mata berkaca-kaca.