Gauri sudah sampai di depan gubuk yang dilihatnya, “Apa ada orang, apa ada orang di dalam”. Gauri melihat sekeliling pondok dengan matanya, “aku butuh pertolongan”. Karena ga ada jawaban, Gauri melangkah ke dalam. Ia masih mengucapkan permisi, “apa ada orang, apa ada orang”. Kakinya tersandung benda yang ada dalam pondok, Gauri terjerembab jatuh di lantai pondok. Dengan wajah meringis, ia bangkit. Tak ada siapan-siapa, Gauri keluar pondok lagi.

Shakuntala episode 36 #35 18

Di luar, Gauri bergumam, “sepertinya tidak ada orang”. Ia melihat ke samping pondok, “apa ada orang, aku mohon, tolong aku”. Gauri mengulang ucapannya berkali-kali. Tetap tak ada respon. Saat membalikkan badannya, ia terlonjak kaget.

Karan kembali ke ashram dengan jalan pincang. Dua temannya yang sedang menunggu, menghampiri. Karan dengan nafas masih sesak bertanya, “Shakuntala, apa dia sudah kembali”. Dua temannya saling pandang dan geleng dengan wajah cemas.

Shakuntala episode 36 #35 20

Karan memberitau apa yang dirasanya saat itu, “aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi aku tidak menemukannya. Aku tidak tau harus berbuat apalagi”. Dua temannya tertunduk dengan wajah sedih. Karan berkata lagi, “bila terjadi sesuatu padanya, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Tidak akan”.

Gauri yang saat berbalik di luar pondok kosong, sangat kaget dan terkejut , ternyata melihat Veer sudah berdiri tak jauh darinya dekat sebatang pohon dengan susah payah. Gauri bersuara, “kau membuatku kaget saja, kenapa kau kesini, aku menyuruhmu menunggu disanakan”.

Veer bukannya menjawab, ia malah hampir terjatuh lagi, karena ga kuat menopang tubuhnya sendiri. Gauri langsung mengejarnya, “berdiri saja kau sepertinya tak sanggup, tapi kau bisa berjalan sejauh itu”. Gauri semakin menyadari, darimana Veer mendapatkan ‘kekuatan’ itu.

Shakuntala episode 36 #35 21

Gauri membantu memapah Veer ke balai-balai di depan pondok. Membaringkannya disitu, “kau tidak boleh memaksakan diri, kita tunggu disini sementara waktu”. Mata Veer kembali terpejam. Gauri termenung sambil terus berpikir dn melihat sekitar.

Di tendanya, di depan kaca rias, Kalki sedang tersenyum memandang gelang dari benih ajaib sudah selesai dirangkainya, “dari benih ajaib ini, aku tidak hanya akan membuat gelang, tapi juga kalung untuk Pangeran Dushyant. Maka ia akan terikat padaku seumur hidupnya”. Kalki tersenyum, “kakak pasti telah salah paham, akulah satu-satunya gadis yang diinginkan”. Kalki tersenyum sendiri.

Shakuntala episode 36 #35 22

Mritunjay masuk tenda dengan nafas tersengal dan langsung terduduk. Kalki menghampirinya, melihat wajah Mritunjay, “kakak, apa yang terjadi, apa kau diserang hewan buas di dalam hutan?”.

Mritunjay dengan nada kesal memberi tau, “bukan di serang hewan, tapi Dushyant”. Kalki heran, tak mengerti, “Dushyant? Tapi kalian kenapa bersama-sama”. Mritunjay menjelaskan, “kami tidak pergi bersama, dia pergi sendirian, aku, menemui gadis pujaannya. Awalnya aku ragu, akhirnya aku mengikutinya ke hutan”.

Kalki berdiri dari duduknya. Ia seakan tak percaya mendengar informasi yang di dengar dari kakaknya itu, “aku melakukan semua ini demi Dushyant. Aku bekerja keras mengumpulkan biji ini. Tapi dia, dia malah mengejar wanita lain”.

Mritunjay menambahkan, “karena itulah aku mengikutinya ke hutan. Paling tidak sekarang aku tau bahwa ternyata aku benar. Aku menang taruhan dari mu. Dushyant tidak mencintaimu”. Tempat benih ajaib yang dipegang Kalki terjatuh. Mritunjay menambahkan, “Itulah yang sebanarnya, aku menyaksikannya sendiri”.

Shakuntala episode 36 #35 23

Kalki menoleh ke kakaknya, “Itu berarti bukan aku yang diinginkannya, tapi gadis lain?!”. “Ya”, jawab Mritunjay. “Sejak awal aku sudah memberitaumu”.

Kalki terlihat marah, “siapa dia, aku ingin tau namanya”. Mritunjay memberitau, “Shakuntala”. Kalki semakin terlihat kaget, tak percaya “Putri Rishi itu?!”.

Kemudian Wajah Kalki terlihat mengeras, penuh rencana, “Kakak, kau benar dan aku salah. Mulai sekarang, aku takkan menghalagi, antara kau dan putri Rishi itu. Aku juga takkan membiarkan Dushyant begitu saja. Mulai sekarang tidak ada rintangan bagimu”.

Mritunjay memberitau, “sekarang yang menjadi masalah adalah harga diriku. Aku akan menjadikan putri Rishi itu sebagai milikku”.