“Ma’afkan ayah Kumud. Aku telah hancurkan kehidupan dua orang gadis karena keputusanku yang terlalu terburu-buru”. Dugba langsung menyahut uacapan kesedihan kakaknya itu,”Kakakku, aku tak pernah menyalahkanmu atas hidup yang telah kujalani. Kau bahkan merawat dan melimpahkan kasih sayang padaku dan putriku melebihi tanggung jawabmu sebagai kakak. Kumud juga tidak menyalahkanmu”.

“Tidak Dugba, Aku menyerahkan putriku pada siapa? aku tak mencari tau sebelumnya, aku hanya ingin ia bahagia. Dulu aku menyerahkannya pada Saras. Saras sampai menolaknya dua kali. Hanya karena percaya padaku, Kumud terima menikah dengan Pramad. Sekarang ia bertekad memperbaiki Pramad. Aku malu, aku tersesat”.

Saras yang sudah datang di depan pagar sebagai utusan ayah mertua Kumud, masih tertegun di depan pagar, ragu untuk melangkah masuk, terpana melihat ayah Kumud, ibu Kumud dan ‘ibunya’ Dugba, saling tangis dan saling menguatkan. Dikejauahan Kusum juga melihat betapa hancurnya perasaan ayah dan ibunya.

Saras semakin merasa bersalah. Bukan hanya Kumud yang telah ia hancurkan hidupnya, tapi semua keluarganya ikut hancur. Kumud terpaksa hidup dengan orang yang tak bisa hargai dirinya sendiri, bagaimana ia akan bisa mencintai?

Saras ingat ibunya,”Ibu rasanya aku ingin ikut denganmu, tapi tak bisa. Kepercayaan ibu tak bisa ku jaga, aku tak layak terima saraswati darimu, aku sudah hancurkan semua”.

Saras batal melangkah masuk rumah, ia memutar arah ke sungai, tempat ia menyimpan kenangan ibunya ‘menghilang’. Ia kembali ingat ucapan Vidyacatur yang putus asa dengan kebahagiaan hidup yang ia harapkan untuk Kumud.

Saras merenung,”Keadaan Kumud dan keluarganya sekarang, semua karena aku. Aku yang harus memperbaikinya. Aku harus berdiri disisi Kumud. Aku harus ambil keputusan dan melupakan cinta kami”.

Saras kemudian melangkahkan kaki masuk ke sungai sambil mengingat detik-detik terakhir yang ada dalam ingatan bersama ibunya. Di sini kau membebaskan diri dari hubungan, dari kesedihan mendalam sekaligus membebaskan ayah dari
tanggung jawabnya.

Di tempat ini juga aku bersumpah ,”Aku akan atasi masalah yang kubuat. Memperbaiki hubungan Kumud-Pramad yang tak lengkap dalam waktu 3 bulan. Ini janji Saraswatichandra”.

***
Pagi harinya Kumud menebarkan asap dupanya di ruangan rumahnya. Ibunya mengingatkannya kalau hari itu hari Kemerdekaan. Biasanya Kumud membawa muridnya jalan-jalan. Semua keluarga muncul, memberi dukungan semangat ke Kumud.

Masing-masing mengingatkan sosok Kumud yang dulu sangat tegar dalam menjalani hidupnya. Kumud yang bisa menyelesaikan kuliahnya dengan predikat terbaik dan dapat penghargaan. Walau ia anak perempuan desa dan tak mudah menjalaninya. Ia pantang menyerah. Kumud yang selalu menjadi buah bibir pemompa semangat dan pemberi inspirasi.

Kumud tersenyum dan mangatakan kalau dirinya masih Kumud yang dulu.

KLIK “ANGKA”  Halaman, dibawah  artikel “TERKAIT” untuk melihat foto dan membaca kelanjutan kisahnya ya kawans 🙂